ramadan 2026

Brigade Pangan Rembang Bantu Petani Hadapi Musim Sulit

waktu baca 2 menit
Selasa, 13 Jan 2026 14:34 0 165 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan terobosan besar dalam menjaga stabilitas lumbung pangan daerah.

Melalui peran strategis Brigade Pangan, Pemkab Rembang kini tidak hanya mengandalkan pola tanam tradisional, tetapi mulai menggerakkan potensi petani milenial untuk mengoptimalkan lahan di musim-musim sulit.

​Selama ini, Musim Tanam (MT) 2 dan MT 3 menjadi fase krusial bagi petani di Rembang.

Keterbatasan air seringkali membuat petani enggan berspekulasi, sehingga banyak lahan yang dibiarkan bera (tidak ditanami).

Di sinilah Brigade Pangan, inisiatif dari Kementerian Pertanian, hadir sebagai solusi.

​Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menjelaskan bahwa Brigade Pangan fokus membantu petani mengambil risiko di musim yang sulit.

​“Tugas utama mereka adalah menjaga swasembada pangan kita tetap aman. PR besar kita ada di MT 2 dan MT 3 karena kendala air. Brigade Pangan hadir untuk mendampingi petani agar tetap berani mengoptimalkan lahan meski di tengah risiko tinggi,” ujar Agus Iwan.

​Brigade Pangan yang terbagi dalam tiga wilayah kerja (Barat, Tengah, dan Timur) ini diperkuat oleh masing-masing 15 personel muda yang progresif.

Menariknya, mereka menawarkan skema yang sangat meringankan beban petani.

Yakni menggunakan sistem bagi hasil, di mana lahan dikelola penuh oleh Brigade Pangan tanpa biaya awal dari petani.

Saat panen, pemilik lahan langsung mendapatkan bagian bersih sebesar 30 persen.

Selanjutnya adalah ​layanan jasa ekonomis, yakni petani tetap mengelola lahan sendiri, namun menggunakan jasa Brigade untuk bagian tertentu (pembibitan/penanaman) dengan biaya yang jauh lebih murah.

BACA JUGA :  Selingkuh hingga Judol Picu Tingginya Perceraian di Pati

Sebagaimana ditegaskan Muhamad Winardi, Divisi Pembibitan dan Operator Brigade Pangan Wilayah Tengah.

​“Di Ketanggi, kami menangani lahan 1.000 meter persegi untuk bibit dan tanam hanya dengan biaya Rp350 ribu. Ini jauh lebih irit dibanding biaya operasional mandiri,” ungkapnya.

Meski saat ini memasuki MT 1 dengan pasokan air melimpah, tantangan baru muncul lantaran bibit yang menua akibat kendala teknis lapangan.

Brigade Pangan pun bergerak cepat menyediakan bibit berkualitas dan membantu proses penanaman agar produktivitas tidak merosot.

​“Dalam 15 hari ke depan, fokus kami adalah membantu petani di wilayah Mondoteko. Kami ingin memastikan tidak ada lahan yang sia-sia dan tidak ada petani yang kesulitan tenaga kerja,” pungkas Winardi.

​Kehadiran Brigade Pangan bukan sekadar bantuan teknis, melainkan simbol kebangkitan regenerasi petani di Rembang.

Dengan sentuhan anak muda dan manajemen yang lebih modern, Kabupaten Rembang optimistis produksi pangan akan tetap stabil sepanjang tahun, tanpa harus terhenti oleh pergantian musim.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini