Undang Puluhan Wartawan, BNNK Trenggalek Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Jurnalistik

TRENGGALEK-Mondes.co.id| Demi memberikan penguatan kapasitas didalam mendukung kota yang tanggap pada bahaya peredaran gelap narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba), BNNK (Badan Narkotika Nasional Kabupaten) Trenggalek gelar workshop. Mengambil tempat di salah satu rumah makan lokal, BNNK menggandeng sejumlah narasumber dengan mengundang puluhan insan pers yang bekerja di wilayah Kabupaten Trenggalek. Secara substansial, workshop kali ini lebih kepada sosialisi terhadap gerakan implementasi terhadap Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Hal tersebut sebagaimana disampaikan Kepala BNNK Trenggalek, David Henry Andar Hutapea saat menyampaikan sambutannya jika pihaknya selama ini memang lebih fokus pada upaya memaksimalkan program P4GN. Pasalnya, ketika P4GN ini sudah benar-benar efektif maka peredaran gelap narkoba bisa diminimalisir.

“Saat pecegahan dan penanggulangan peredaran narkoba ini efektif, dipastikan kasus penyalahgunaannya pun bisa diminimalisir,” ungkapnya, Kamis (9/9/2021).

Disampaikan Kepala BNNK, secara nasional dan internasional, narkoba itu sebenarnya sudah menjadi permasalahan bersama. Ancaman minimalnya, yakni keberadaan bahkan eksistensi dari manusia itu sendiri. Sehingga, seluruh elemen bangsa wajib hukumnya untuk secara khusus melawan itu mulai dari level pusat hingga daerah.

“Sebenarnya, situasi Trenggalek itu dipermukaan terlihat tenang dan relatif aman. Tapi janganlah menjadikan kita lengah. Karena ada kondisi dan waktu-waktu tertentu yang tidak disangka bisa menjadi trend dalam peredarannya (narkoba) tersebut,” tandas David.

Apalagi, lanjutnya, ketika menyongsong kondisi ‘new normal’ di masa pandemi beberapa waktu mendatang. Sebab, ketika pada masa pandemi ini saja aktivitas distribusi dan peredaran gelap narkoba pada semester pertama tahun 2021 sudah terungkap hingga 4 ton. Itu menjadi pekerjaan rumah (PR) semua pihak dalam mengantisipasi peluang yang mungkin terjadi. Pasalnya, peredaran gelap narkoba ini bukan hanya tanggung jawab jajaran BNN dan lembaga negara saja namun seluruh elemen bangsa.

“Oleh karena itu, saat pandemi mulai mereda semua pihak dan stake holder terkait harus lebih waspada. Terutama, pada para penyintas (orang yang mampu bertahan) tanpa narkoba. Karena para penyintas adiksi ini juga berpotensi mengalami ‘craving’ (keinginan memakai) jika bertemu dengan faktor-faktor pencetusnya,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Trenggalek, Edif Hayunan Siswanto yang juga sebagai salah satu nara sumber menambahkan jika peran Diskominfo dalam mendukung pencegahan peredaran narkoba selama ini juga sudah baik. Sesuai peran di Diskominfo, pihaknya pun tetap membangun jaringan-jaringan dengan semua pihak. Termasuk, peningkatan kampanye publik tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dan prekursor.

“Salah satunya, dengan penyediaan dan menyebarkan informasi kepada pihak-pihak pengampu kepentingan, dilingkup aparatur negara baik BNN, Polri, TNI atau lembaga lain,” kata Edif.

Selain itu, lanjutnya kemudian, Diskominfo juga sudah ada relawan TIK dan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) yang bisa di manfaatkan. “Diharapkan, apa yang sudah ada di Kominfo ini bisa secara maksimal dimanfaatkan.

Mantan Camat Panggul tersebut memberikan pesan mendalamnya, dengan mengutip dari sebuah kata bijak yakni ‘ hidup pasti berakhir, namun jangan diakhiri dengan narkoba’. “Seyogyanya, hidup itu berakhir dengan Khusnul Khatimah (akhir yang baik), jangan sampai karena disebabkan penyalahgunaan narkoba,” pungkas Edif.

(Heru/mondes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.