Memanfaatkan Belajar Daring, Mahasiswa asal Desa Kembang Raup Jutaan Rupiah dari Menanam Selada Hidroponik

PATI-Mondes.co.id| Belajar secara daring, membuat siswa jenuh jika tidak ada aktivitas lain. Namun tidak bagi Muhammad Fahmi Royyan Itsbad, mahasiswa asal Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah ini. Mengisi waktu luang saat belajar daring, justru membuat ia meraup omzet jutaan rupiah per bulan dengan menjadi petani milenial menanam selada sistem hidroponik.

Mahasiswa di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti ini sukses membudidayakan tanaman selada melalui media tanam hidroponik. Budidaya tanaman dengan hidroponik telah dilakukan mahasiswa semester II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini dilakukan sejak sepuluh bulan yang lalu.

Menurut Royyan, membudidayakan tanaman selada melalui media tanam hidroponik tidaklah rumit. Dengan memanfaatkan halaman pekarangan seluas 8 x 10 meter, dan ruang pembibitan, mahasiswa jurusan Ilmu Qur’an ini melakukan perawatan tanaman setiap hari.

“Saat pertama kali mendaftar, saya bingung mengisi waktu karena barus belajar secara daring. Dari situ akhirnya harus memutar otak, dan akhirnya bercocok tanam selada dengan sistem hidroponik ini. Apalagi pekarangan rumah kan cukup untuk sistem hidroponikini,” cerita Royyan. Jumat, (9/7/2021).

Dikatakan, membutuhkan waktu selama 45 hari, mulai dari masa pembibitan hingga selada segar siap dipanen. Alhasil, dengan membudidyakan tanaman hidroponik ini ia mengaku mampu memperoleh omzet Rp 4-5 juta per bulan.

“Saat ini dengan kapasitas 2.600 lubang tanaman, per hari saya mempunyau langganan tetap. Minimal 7 kg untuk menyuplai ke sejumlah pelanggan. Belum lagi nanti ada warga sekitar yang langaung datang ke sini. Kalau pelanggan yang membeli selada, rata-rata adalah pedagang kebab dan burger,” jelasnya.

Sementara, Siti Sholikah, warga Desa Alasdowo mengaku senang dan baru tahu kalau ada yang menjual selada segar. Karena kalau dari pasar biasanya selada yang dibeli kondisinya sudah layu. Sehingga, jika membeli banyak juga yang harus terbuang.

“Kebetulan saya kan usaha katering. Jadi sekarang tidak usah repot-repot mencari selada. Apalagi disini bisa memilih sendiri selada yang akan saya beli. Kalau mencari di pasar kadang juga tidak ada. Beberapa menu kan memang membutuhkan selada, seperti nasi tumpeng, nasi kuning, dan menu bento untuk ulang,” kata Sholikah.

Tak hanya datang dari lokal, dan luar kecamatan saat ini pembeli juga ada yang datang dari luar daerah seperti Jepara. Selain untuk menyalurkan hobi berkebun, budidaya hidroponik ini, juga membuka peluang usaha di masa pandemi.

(Ed/Mondes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.