Foto: Ketua Tim (Katim) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pati, Yanti dan Pengelola Program HIV dan Zoonosis Dinkes Pati, Agus Irawan (Mondes/Singgih) PATI – Mondes.co.id | Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS melalui skrining dini, pendampingan pengobatan, serta edukasi kepada masyarakat.
Ketua Tim (Katim) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pati, Yanti, mengatakan deteksi dini menjadi salah satu langkah penting untuk menemukan kasus HIV sedini mungkin.
Dengan begitu, penderita dapat segera memperoleh pengobatan dan pendampingan.
Menurutnya, skrining dilakukan terhadap populasi kunci dan populasi khusus yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar HIV.
Kelompok tersebut meliputi laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), waria, wanita pekerja seks (WPS), pengguna narkotika suntik (penasun), warga binaan lapas, ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), hingga pasien dengan infeksi menular seksual.
“Pemeriksaan dilakukan melalui rapid test HIV. Untuk ibu hamil dilakukan pada trimester pertama sebagai bagian dari program triple eliminasi, sedangkan kelompok berisiko lainnya dilakukan skrining secara berkala,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinkes Pati, hingga April 2026 ditemukan 90 kasus HIV baru.
Sementara itu, sejak kasus pertama ditemukan pada 1996 hingga April 2026, tercatat 3.396 orang dengan HIV yang masih hidup.
Yanti menjelaskan, salah satu tantangan dalam penanganan HIV adalah masih adanya stigma di masyarakat terhadap orang dengan HIV (ODHIV).
Stigma tersebut kerap membuat penderita enggan memeriksakan diri, maupun menjalani pengobatan secara rutin.
Selain itu, kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV), juga menjadi perhatian karena terapi harus dijalani seumur hidup.
“Kadang pasien merasa sudah sehat, sehingga tidak melanjutkan pengobatan. Padahal pengobatan yang rutin sangat penting untuk menjaga kondisi kesehatan mereka,” katanya.
Senada dengan itu, Pengelola Program HIV dan Zoonosis Dinkes Pati, Agus Irawan, menuturkan bahwa kepatuhan minum obat menjadi kunci keberhasilan pengobatan HIV.
Menurutnya, sebagian pasien merasa jenuh karena harus mengonsumsi obat setiap hari dalam jangka panjang.
Selain itu, keterbukaan kepada pasangan, juga masih menjadi tantangan dalam upaya pencegahan penularan.
“Yang paling penting adalah kepatuhan pengobatan. Dengan minum obat secara teratur, kualitas hidup penderita dapat tetap terjaga,” ujarnya.
Hingga April 2026, Dinkes Pati mencatat sebanyak 2.090 ODHIV mengetahui status kesehatannya.
Dari jumlah tersebut, 1.148 orang telah mendapatkan terapi ARV.
Selain itu, ratusan pasien juga menjalani pemeriksaan viral load untuk memantau efektivitas pengobatan.
Agus memastikan layanan pengobatan HIV di Kabupaten Pati tetap tersedia dan dapat diakses masyarakat melalui fasilitas kesehatan yang memberikan layanan HIV.
Dinkes Pati mengimbau masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan HIV di fasilitas kesehatan maupun Pos Layanan Komunitas (PLK).
Selain itu, masyarakat diharapkan menerapkan perilaku hidup sehat, meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS, serta tidak memberikan stigma kepada ODHIV.
“Kami juga terus melakukan sosialisasi ke sekolah dan berbagai kelompok masyarakat agar pemahaman tentang HIV semakin baik. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat dapat melakukan pencegahan sejak dini,” pungkasnya.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar