Dongkrak Kesejahteraan Petani, Rembang Targetkan Produktivitas Tebu Tembus 90 Ton per Hektare

waktu baca 2 menit
Jumat, 10 Jul 2026 14:18 0 94 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Pemerintah Kabupaten Rembang terus tancap gas mematangkan potensi tebu sebagai komoditas pertanian unggulan daerah.

BHAYANGKARA 80

Lewat berbagai program strategis, Pemkab Rembang optimistis bisa mendongkrak daya saing petani, sekaligus memperkuat roda perekonomian daerah.

​Bukan tanpa alasan, potensi lahan tebu di Rembang terbilang sangat menjanjikan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, membeberkan bahwa saat ini luas areal tebu di Rembang telah mencapai angka yang fantastis.

​”Luas areal tebu kita saat ini mencapai sekitar 6.800 hektare untuk produksi gula kristal, dan sekitar 1.900 hektare difokuskan untuk produksi gula tumbu,” ujar Agus, Jumat (10/7/2026).

​Untuk memaksimalkan potensi lahan yang luas tersebut, Pemkab Rembang kembali melanjutkan program bongkar ratoon di tahun 2026 ini.

Program ini menjadi solusi jitu dengan cara mengganti tanaman tebu tua yang sudah menurun produktivitasnya, dengan bibit baru yang jauh lebih unggul dan segar.

​Langkah ini terbukti bukan sekadar wacana.

Evaluasi dari tahun sebelumnya menunjukkan tren yang sangat positif, program ini sukses menyasar lahan seluas 2.045 hektare.

Sebelumnya, rata-rata panen hanya berkisar di angka 50 hingga 60 ton per hektare.

​Dengan pembaruan bibit ini, target besar pun dipatok.

Pemkab Rembang membidik lonjakan produktivitas hingga 80 sampai 90 ton per hektare, dengan tingkat rendemen (kandungan gula) menyentuh angka 7,5 persen.

​Agus menegaskan bahwa lompatan produktivitas ini adalah langkah strategis untuk memperkokoh posisi Rembang sebagai salah satu “lumbung tebu” utama di Jawa Tengah.

BACA JUGA :  Sapi Limosin 1 Ton dari Meteseh Rembang Jadi Kandidat Kurban Presiden Prabowo

Jika produktivitas melejit, otomatis kantong pendapatan para petani juga akan semakin tebal.

​Namun, perjalanan menuju swasembada ini bukan tanpa hambatan.

Saat ini, para petani masih terganjal masalah keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan), terutama kebutuhan akan Traktor Roda Empat (TR4) untuk pengolahan lahan yang lebih cepat dan efisien.

​”Kami sedang mengusulkan tambahan bantuan TR4. Kebutuhan petani di lapangan masih cukup tinggi untuk mendukung percepatan pengembangan tebu ini,” tambah Agus.

​Melalui sinergi antara peremajaan tanaman (bongkar ratoon) dan upaya pemenuhan fasilitas modern, Pemkab Rembang sangat optimistis sektor manis ini akan membawa dampak yang jauh lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat dan kejayaan pertanian daerah.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini