Wacana Kompetisi Pilkades Trenggalek 2027, Zainal Abidin: Jangan Mau Jadi Wayang Politik

waktu baca 3 menit
Rabu, 17 Jun 2026 17:41 0 33 Heru Wijaya

TRENGGALEK – Mondes.co.id | Tahun 2027 di Trenggalek wacananya akan menjadi ruang terbuka untuk kompetisi politik serentak level pemerintah desa.

Hal tersebut dipastikan memunculkan dinamika sosial tersendiri bagi masyarakat di wilayah yang akan menggelar agenda terkait.

Diyakini, pada kondisi tertentu muncul eskalasi, terutama bagi para kandidat maupun bakal calon kompetitor.

Mengingat, masing-masing juga memiliki basis massa yang punya misi agar bisa memenangkan kontestasi.

“Padahal, istilah politik itu dalam arti yang paling mulia adalah upaya bersama untuk mencapai tujuan yang baik demi kepentingan bersama. Namun, di lain sisi juga mengandung makna kurang baik jika ditilik dari segi empirik,” ujar Sekretaris Jendral (Sekjend) LSM WAR, Zainal Abidin, Rabu 17 Juni 2026.

Kerap diidentikkan pula, lanjut dia, sebagai upaya sekelompok orang untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya sesuai tujuan dan kepentingan masing-masing.

Sedangkan masyarakat sebagai komunitas publik, hanya bisa menafsirkan apa yang terjadi di permukaan saja.

Tidak akan mungkin pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik asap dunia perpolitikan.

“Termasuk, potensi adanya tokoh-tokoh tertentu yang secara sengaja hanya dijadikan wayang atau alat kamuflase di kancah pertarungan (politik) tersebut,” ujarnya.

Padahal, masih kata Zainal, jika merujuk pada istilah seni istiadat (norma kultural), wayang merupakan salah satu produk ekosistem sosial yang hidup, guna membuktikan keberlangsungan akar sejarah budaya dalam komunitas masyarakat tertentu.

Di situ mengandung kompleksitas makna maupun nilai, baik sosial, politik, budaya hingga spiritualitas.

BACA JUGA :  Fantastis, Kekayaan Haryanto Meningkat Berkali-kali Lipat Sebelum dan Sesudah Jadi Bupati Pati

Pun begitu dengan adanya perkembangan zaman, teknologi serta kepentingan sekarang, istilah wayang bukan lagi tentang rekaman peradaban atau rumusan solusi langsung.

“Tetapi sudah diarahkan sebagai alat untuk simbolisme multi tafsir yang sulit dimaknai dan dikontekstualisasi oleh awam,” tandas Zainal.

Lebih lanjut, dirinya menambahkan, secara substantif pesan moral tersirat (wayang) lebih kepada pembelajaran tentang kehidupan, moralitas, dan keadaban manusia bermasyarakat.

Mengajarkan agar menjunjung tinggi kebenaran serta moralitas dalam hal apa pun, termasuk berpolitik.

Akan tetapi, fakta di lapangan justru berbanding terbalik, banyak manuver dilakukan seseorang hanya agar mencapai kekuasaan.

“Untuk menempati posisi puncak (pemerintahan) terkadang menggunakan cara-cara yang tidak elegan, bahkan melewati batasan-batasan etika berdemokrasi,” keluhnya.

Tugas politisi itu, masih kata Sekjend WAR, adalah membangun wacana dan rencana yang terorganisir.

Sehingga melahirkan produk-produk terstruktur yang aplikatif dalam mengubah kondisi masyarakat menjadi lebih baik.

Dengan tidak mengabaikan atau mengorbankan kepentingan publik di semua tataran.

Kemudian, dapat menciptakan kesadaran kolektif akan tatanan nilai melalui rumusan baru tentang kehidupan yang lebih beradab.

Seseorang yang terjun di dunia politik atau politisi, harus benar-benar paham tentang istilah tersebut termasuk beban tanggung jawabnya.

Bukan sekedar mengenai menunjukan hegemoni, tapi juga kelengkapan piranti sosial yang wajib dikuasai agar mampu mengatasi persoalan-persoalan di tengah masyarakat.

“Jangan mau dijadikan alat atau diperalat hanya agar tercapainya kepentingan tertentu. Apalagi jadi wayang, demi memuaskan hasrat kelompok-kelompok tersebut,” pungkas Zainal.

Editor: Mila Candra 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini