Serangan Hama Wereng Begitu Cepat, Petani Desa Krikilan Rembang Dipastikan Gagal Panen

waktu baca 2 menit
Rabu, 17 Jun 2026 13:55 0 138 Supriyanto

REMBANG – Mondes.co.id | Gagal panen kembali terjadi di sektor pertanian Kabupaten Rembang.

Hama wereng batang cokelat (WBC) dilaporkan kembali mengganas dan menyerang puluhan hektare lahan persawahan milik petani di Dusun Jambu, Desa krikilan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang.

Serangan hama ini tergolong masif dan cepat, hingga menyebabkan tanaman padi yang semula hijau subur, berubah menjadi kering meranggas dalam waktu singkat.

​Berdasarkan hasil pantauan langsung di beberapa titik lokasi persawahan Dusun Jambu, dampak serangan hama wereng ini terlihat sangat memprihatinkan.

Hamparan tanaman padi yang seolah menguning layu tampak mendominasi kawasan tersebut.

Fenomena ini di kalangan petani dikenal dengan istilah hopperburn, di mana tanaman padi mengering layu seperti terbakar akibat cairannya dihisap oleh koloni wereng.

​Serangan ini terjadi secara sporadis, namun merata di beberapa blok persawahan.

Sehingga membuat lahan para petani di Dusun Jambu dipastikan berpotensi terjadinya puso atau gagal panen total pada musim tanam kali ini.

​Keluhan mendalam dirasakan oleh para petani setempat.

Salah satu petani asal Dusun Jambu, menceritakan betapa ganasnya serangan hama wereng pada musim ini.

​Menurut penuturannya, gejala awal serangan mulai terlihat saat tanaman padi memasuki usia krusial, yaitu sekitar 2 bulan (60 hari setelah tanam).

Pada usia tersebut, padi sedang dalam masa pertumbuhan optimal dan bersiap memasuki fase generatif.

​”Serangannya cepat sekali. Padi saya itu baru berumur sekitar 2 bulan, tahu-tahu di bagian pangkal batangnya sudah penuh wereng. Saya tidak tinggal diam, saya sudah lakukan langkah penyemprotan pestisida sampai 3 kali berturut-turut dengan dosis yang dianjurkan. Tapi alhasil, tetap saja tidak ada perubahan dan padi saya sekarang malah mengering,” keluhnya dengan nada pasrah, Rabu (17/6/2026).

BACA JUGA :  Manajemen Persijap Gagal Raih Kesepakatan dengan Rakhmatsho Rakhmatzoda

​Upaya penyemprotan mandiri yang menghabiskan biaya tidak sedikit tersebut, seolah sia-sia.

Wereng-wereng tersebut diduga sudah kebal (resisten) terhadap jenis bahan aktif pestisida yang digunakan, atau populasi hama yang bermigrasi jauh lebih besar ketimbang kecepatan penanganan mandiri yang dilakukan petani.

​Kegagalan penanganan mandiri ini jelas memukul telak perekonomian para petani di Desa krikilan, khususnya Dusun Jambu.

Selain kerugian materiil akibat modal saprodi (sarana produksi pertanian) seperti pupuk, benih, dan obat semprot yang melayang, mereka kini terancam kehilangan pendapatan utama dari hasil panen.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini