Foto: Pentas wayang golek di Desa Kudur, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati (Mondes/Singgih) PATI – Mondes.co.id | Pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa, masyarakat Desa Kudur, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati memeriahkannya dengan sedekah bumi.
Kali ini, sedekah bumi berlangsung dengan menampilkan pentas wayang golek.
Pentas wayang golek ini unik, lantaran hanya Desa Kudur yang menampilkan sajian seni kebudayaan tersebut di Kabupaten Pati.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Desa (Kades) Kudur, Kardoyo ketika diwawancarai Mondes.co.id di sela sedekah bumi, kemarin.
Menurutnya, sajian pentas wayang golek sudah turun-temurun.
Bahkan, sejak ia kecil, wayang golek sudah ditanggap oleh masyarakat setempat.
“Wayang golek mulai sejak nenek moyang, karena sudah tradisi dari nenek moyang dari dulu sampai sekarang. Di Pati hanya ada di Desa Kudur pentas wayang golek, yang diselenggarakan di Punden Ronggo Joyo, Dukuh Njati, Desa Kudur,” ujarnya.
Wayang pun dipentaskan dengan lakon “Among Tani”.
Tema tersebut menggambarkan wujud syukur masyarakat desa atas hasil panen yang melimpah, mulai dari padi, jagung, dan ketela
Pentas wayang golek disajikan dengan dalang kondang, iringan musik gamelan, dan pesinden yang punya suara merdu.
Perpaduan ini memikat masyarakat Desa Kudur dan sekitarnya untuk hadir menyaksikan pentas wayang golek.
“Among Tani untuk petani, mudah-mudahan dijauhkan dari bala dan diberi barokah jagung, ketela, tidak ada hama di sini. Petani semua kebanyakan,” ungkap Kades yang sudah menjabat selama 20 tahun itu.
Periode ketiganya memimpin masyarakat Desa Kudur, Kardoyo tetap melestarikan kebudayaan wayang golek untuk ditampilkan saat sedekah bumi.
Ratusan tahun seni wayang golek selalu eksis di masyarakat.
Harapannya, alur cerita wayang golek ini bisa menggambarkan kondisi terkini nasib para petani Desa Kudur.
Ia juga berharap agar kesenian tari wayang golek tetap lestari di Desa Kudur.
“Mudah-mudahan pada wayang ini lakonnya berjalan lancar, sukses. Moga-moga ada manfaat barokah bagi masyarakat Kudur,” pungkasnya.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar