Meneladani Jejak Mbah Leseh, Sang Penyebar Islam di Donorojo

waktu baca 2 menit
Sabtu, 9 Mei 2026 13:49 0 39 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Kawasan Benteng Portugis, Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo dibanjiri peziarah pekan ini.

Pengajian umum dalam rangka haul Mbah Leseh digelar Jumat (8/5/2026) malam.

Hadir sebagai penceramah KH. Ahmad Marzuki yang pernah menjabat sebagai Bupati Jepara 2012-2017, didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat, dan Camat Donorojo Ahmad Widiyanto.

Haul Mbah Leseh digelar sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh besar penyebar agama Islam di wilayah Donorojo.

Kepala Disparbud Jepara Ali Hidayat, mengungkapkan optimismenya bahwa keberadaan makam Mbah Leseh bukan sekadar situs sejarah, melainkan daya tarik kuat bagi wisatawan yang berkunjung ke Benteng Portugis.

Integrasi antara wisata alam, sejarah benteng, dan wisata religi makam leluhur, diharapkan mampu membangkitkan ekonomi lokal.

“Makam Mbah Leseh ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Benteng Portugis,” ujar Ali Hidayat.

Camat Donorojo, Ahmad Widiyanto, mengatakan Makam Mbah Leseh ini, akan melengkapi wisata khususnya wisata religi yang ada di Kecamatan Donorojo.

Siapa sebenarnya Mbah Leseh?

Juru Kunci Makam, Ahmad Faizun (57), mengisahkan bahwa tokoh yang memiliki nama asli Joko Glagah ini, merupakan putra keturunan Jokosari dari Banten, Jawa Barat.

Nama “Leseh” sendiri melekat karena gaya kepemimpinannya yang membumi.

Dahulu, beliau mengajarkan ilmu agama kepada murid-muridnya dengan cara lesehan (duduk di lantai).

Tak hanya sebagai ulama, beliau juga dikenal sebagai tokoh heroik yang membantu Ratu Kalinyamat saat menjalani laku tirakat (bertapa) di bukit Donorojo.

BACA JUGA :  Memotret Ritual Jelang Waisak di Lereng Pegunungan Muria

Dalam kesempatan haul ini, KH. Ahmad Marzuki mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk hadir dan meramaikan makam Mbah Leseh.

Pada kesempatan tersebut, ditekankan pentingnya menjaga tradisi ziarah sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa menyebarkan cahaya Islam di Donorojo.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini