Foto: Sosialisasi digitalisasi naskah kuno di Dinas Arpus Pati (Mondes/Singgih) PATI – Mondes.co.id | Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Pati, Sukardi, menyebut Bumi Pesantenan menyimpan potensi naskah kuno yang melimpah.
“Di Pati ini cukup banyak naskah kuno tapi belum tergali, sehingga ini perlu kita upayakan. Sudah ada beberapa yang kami alihmediakan sebenarnya, tapi kan masih banyak yang belum, sehingga kami gali lagi,” ujarnya pada Jumat, 17 April 2026.
Hambatan utama di lapangan adalah anggapan naskah kuno sebagai “harta pusaka” yang sakral dan tak boleh diketahui orang luar.
Oleh sebab itu, Dinas Arpus Kabupaten Pati menggandeng perwakilan kecamatan untuk memfasilitasi komunikasi hingga tingkat desa.
“Kami ingin menyadarkan pemilik naskah bahwa dokumen tersebut bisa diamankan melalui alih media tanpa harus kehilangan fisiknya. Sehingga yang digunakan untuk belajar dan lain-lain itu tidak naskah aslinya melainkan hasil alih medianya, sehingga tidak merusak naskah aslinya,” tegas Sukardi.
Hingga kini, Dinas Arpus Kabupaten Pati telah mengidentifikasi 12 naskah kuno, 7 di antaranya sudah dialihmediakan ke bentuk buku, PDF, dan foto.
Mayoritas naskah berasal dari lingkungan pesantren di wilayah Kajen, Tayu, hingga Trangkil, berupa kitab beraksara Arab gundul.
Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan Dinas Arpus Kabupaten Pati, Aris Haryono, menekankan pentingnya peran masyarakat melaporkan keberadaan naskah.
Tujuannya agar ilmu leluhur tidak terputus.
“Yang kita amati bahwa buku-buku peninggalan dari mbah-mbah kita, dari kiai-kiai kita, itu kesannya dianggap sebagai pusaka, sehingga tidak dipublikasikan ke luar. Makanya kita lakukan sosialisasi ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa peninggalan-peninggalan luhur itu bisa dialihmediakan,” katanya.
Jika sudah digitalisasi, naskah asli tetap di tangan pemilik. Namun, ilmunya bisa diakses luas.
Salah seorang mahasiswa Magister Ilmu Sejarah, Dian Utoro, merespons positif digitalisasi ini sebagai oase bagi peneliti.
“Selama ini kami kesulitan mengakses sumber primer karena pemiliknya sangat tertutup. Naskah itu sering dianggap keramat, padahal isinya adalah ilmu pengetahuan. Upaya Arpus untuk menjembatani antara pemilik naskah dengan kebutuhan edukasi publik ini sangat krusial agar sejarah lokal Pati tidak hilang ditelan zaman,” tutur lelaki asal Desa Pucakwangi.
Sementara, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Pati, Angga Saputra mendorong hilirisasi naskah kuno lewat kajian mendalam, alih bahasa, hingga pameran publik.
“Tujuannya agar program ini tidak berhenti pada tahap sosialisasi semata, melainkan menjadi upaya dalam merekonstruksi identitas serta nilai-nilai luhur ke-Pati-an,” ucapnya.
Dinas Arpus Kabupaten Pati berharap para tokoh masyarakat dan aparat kecamatan dapat mengedukasi warga bahwa digitalisasi justru bentuk penghormatan dan pengamanan terhadap warisan intelektual leluhur.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar