ramadan 2026

Cerita Muslim Tionghoa Menghadapi Ramadan di Jepara

waktu baca 4 menit
Kamis, 19 Feb 2026 09:27 0 69 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Masyarakat Tionghoa sekarang ini mulai banyak yang memeluk agama Islam.

Menghadapi bulan Ramadan, mereka menggelar pengajian, serta tidak melupakan tradisi Tionghoa yaitu bagi angpao.

Hal ini sebagaimana di Masjid Walisongo Pecangaan, Jepara.

Sejumlah jemaah Muslim Tionghoa, maupun mualaf tampak khidmat mengikuti pengajian Ustaz Mahdi atau Kwee Giok Yong.

Ia merupakan mualaf yang kini aktif berdakwah dan membina komunitas Muslim Tionghoa.

Ustaz Mahdi sendiri menjadi sosok di balik berdirinya masjid di tepi Jalan Delima, kompleks Armada Estate, Magelang Utara, Kota Magelang.

Tempat ibadah di Kota Sejuta Bunga itu, dirancang dengan sentuhan arsitektur bernuansa Tionghoa, fasadnya menyerupai kelenteng, namun fungsinya sepenuhnya sebagai masjid.

Perpaduan budaya dan akidah itu, menjadi simbol bahwa identitas etnis dan keyakinan bisa berjalan selaras.

“Iman itu bisa naik dan turun. Agama seseorang sangat tergantung siapa teman dekatnya, lingkungannya yang selalu mengingatkan kepada Allah dan Rasul-Nya,” tutur Ustaz Mahdi, kemarin.

Momentum Imlek yang berdekatan dengan Ramadan, menurutnya, menjadi kesempatan memperbaiki kualitas dan kuantitas keimanan.

Ia mengajak jemaah untuk mencari majelis taklim dan lingkungan yang bisa saling menguatkan.

Apalagi, seorang mualaf memulai kehidupan spiritualnya mulai dari nol.

Sehingga, upaya-upaya dalam perkuatan keimanan, amatlah penting.

“Kalau tahun baru Imlek itu kan bentuk syukur, semacam sedekah bumi. Mensyukuri hasil rezeki, berkumpul keluarga, makan bersama. Tasyakuran tidak masalah, selama tetap dalam koridor syariat,” ujarnya.

Ustaz Mahdi juga mengaku terkesan, meskipun jemaah tak lebih dari 20 tahun, namun hal tersebut menunjukkan gairah yang tinggi.

BACA JUGA :  Jateng Sumbang Banyak Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 

Khususnya bagi Muslim Tionghoa, maupun kalangan mualaf.

Pihaknya menjelaskan, dulu saat awal-awal Nabi Muhammad menerima wahyu pun, istri Nabi yang menjadi mad’u (orang yang diajak menuju jalan Allah dengan ajaran Islam), baru keluarga, kerabat, dan masyarakat secara umum.

Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah, Maria Leoni atau Tan Swan Chu (38).

Ia menyebut, kegiatan serupa sejatinya lebih banyak terpusat di Semarang.

Namun di Jepara, silaturahmi tetap dirawat, meski jumlahnya belum besar.

“Chinese Muslim di sini kebanyakan pendatang. Tapi komunikasi tetap berusaha kami jalin. Silaturahmi dan saling mengenal itu penting,” katanya.

Ia bercerita, komunitas Muslim Tionghoa di Jepara sudah ada sekitar tahun 1970-an.

Kini, pihaknya berupaya terus mengeratkan tali persaudaraan tersebut.

Sehingga, digelarlah pengajian tersebut di hari perayaan Imlek yang juga bertepatan dengan momentum datangnya Ramadan.

Kini, komunitas tersebut semakin terbuka dan membaur.

Dalam momen Imlek, mereka juga berbagi angpao tanpa memandang usia, baik kalangan muda maupun tua.

Mereka menerima amplop merah sebagai simbol berbagi rezeki.

“Ada istilah dalam tradisi Tionghoa, semakin banyak memberi angpao, semakin berkah. Saya pribadi merasakan, semakin banyak memberi, urusan semakin dimudahkan. Rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka,” sambungnya.

Selain angpao, dalam tradisi Imlek, tak jarang kue keranjang pun turut dihidangkan.

Bukan sekadar sajian khas, tetapi simbol harapan akan rezeki yang lengket dan hubungan keluarga yang erat.

Salah satu jemaah, Peng Bun Khiong atau Hartono (58), mengaku memeluk Islam sejak 1996.

Ah Cay sapaan akrab Hartono, menceritakan sejak kecil ia besar di Singapura.

Namun, setelah menikah dengan warga Jepara, ia kini menetap di Kelurahan Pengkol, Jepara, bersama istri dan empat anaknya.

BACA JUGA :  Arus Balik, Harga Tiket di Terminal Cepu Naik 2 Kali Lipat

“Dalam penanggalan Tionghoa ada 12 shio, tahun ini shio kuda api. Katanya panas. Ya kami bikin tenang saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Baginya, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, tetapi momentum memperbaiki diri.

Prinsip hidup yang ia pegang sejak kecil adalah bekerja cepat dan tepat, tidak menunda-nunda pekerjaan.

“Harapannya setiap tahun sehat, panjang umur, anak-anak sejahtera, semakin istikamah,” tuturnya.

Ia menilai, Jepara sebagai daerah yang terus berkembang.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang baik, membuat masyarakat memiliki pekerjaan dan mengurangi tingkat stres sosial.

“Jepara sekarang bagus. Banyak investor masuk, anak muda dapat pekerjaan. Ekonomi berkembang. Semoga damai dan sejahtera,” katanya.

Menutup perbincangan, Hartono mengaku rutin berziarah ke Makam Mantingan sebagai bentuk penghormatan sejarah, tradisi, dan leluhur.

Baginya, menjadi Muslim Ah Cay di Jepara bukan soal perbedaan, melainkan harmoni, antara iman, budaya, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

“Kami sekeluarga juga bercita-cita mau ziarah ke Tanah Suci (Makah dan Madinah),” pungkasnya.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini