HAPPY NEW YEAR

Plaza Pragola Pati Sunyi Terbengkalai, Dulu Ramai Kini Tinggal Empat Pedagang

waktu baca 2 menit
Selasa, 10 Feb 2026 15:27 0 97 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Ristiyanti, seorang penjual makanan di Plaza Pragola, kini harus menerima kenyataan pahit di tengah sepinya food court yang ditempatinya.

Ia harus bertahan di tengah minimnya minat pengunjung sentra oleh-oleh khas Bumi Mina Tani.

Wanita asal Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo itu, mengeluhkan sepinya pelanggan yang datang di Plaza Pragola.

Padahal, beberapa tahun silam tempat ini pernah ramai pengunjung dari Kabupaten Pati maupun luar daerah.

Dikatakannya, keramaian itu semakin pudar semenjak Covid-19 melanda.

“Dulu ramai sekali, sepi sejak ada Corona sampai sekarang belum pulih. Dari dulu jualan di sini, jualan penyetan seperti lele, ayam goreng, rica-rica,” ungkapnya saat diwawancarai awak media, Selasa, 10 Februari 2026.

Sejak 2017 ia berjualan di lapak tersebut, bahkan saat itu ramai pengunjung datang di lapaknya dan lapak sebelahnya.

Namun, lapak yang lain sederet dengannya, sudah tinggal kenangan karena tak kuat lagi bertahan.

Saat masih ramai, pemasukan tiap hari mampu menyentuh Rp1,5 juta.

Jauh merosot ketika sepi, sekarang per hari hanya mendapat penghasilan di bawah Rp400 ribu, sehingga tidak mampu balik modal.

“Dulu itu pemasukan banyak, sekarang separuhnya dulu. Dulu per hari banyak (pengunjung), sekarang cuma pegawai kantor (Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati) tok, mereka paling sarapan dan makan siang. Dulu orang luar pada ke sini,” ujarnya dengan ekspresi sedih.

Tampak pembeli yang datang bisa dihitung jari, sehari tidak sampai 10 pembeli.

BACA JUGA :  Program TMMD Desa Plaosan Dikebut

Ristiyanti sangat meratapi nasib tersebut, apalagi selama ini biaya sewa lapak Rp60 ribu per bulan.

“Pendapatan sekarang kadang yo gak bisa buat kulakan. Pendapatan Rp400ribu saat ini udah sulit, dulu sampai Rp1,1 juta, bisa Rp1,5 juta,” ucapnya sambil malu-malu.

Ia menyebut, tinggal 4 penjual makanan saja yang masih bertahan, bahkan penjualan souvernir khas Kabupaten Pati sudah tutup.

Penyewa lapak kadang datang bukan untuk jualan, melainkan untuk keperluan lain.

Meskipun di Plaza Pragola terdapat bioskop, akan tetapi pengunjung bioskop lebih memilih beli makanan dari luar plaza atau yang dijual oleh pihak bioskop itu sendiri.

Penjual di Plaza Pragola hanya menggantungkan nasib pada pembeli yang berasal dari unsur Pemerintah Daerah (Pemda) dan pengguna gedung untuk gelaran event.

“Event paling lomba-lomba manuk (kontes burung). Bioskop ramai-ramai gak jajan di sini mereka,” tuturnya.

Ia berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bisa membantu untuk mendongkrak perekonomian pelaku usaha di Plaza Pragola.

Sehingga pelaku usaha kelas menengah sepertinya kembali sejahtera.

“Harapannya moga-moga ramai seperti dulu lagi,” harapnya.

Meskipun Pemkab Pati berniat memasang wifi gratis untuk pengunjung, namun Ristiyanti sudah memasang koneksi wifi sendiri di lapaknya.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini