HAPPY NEW YEAR

Sound The Shit Siap Gebrak Panggung Musik dengan Lagu Baru 

waktu baca 4 menit
Senin, 2 Feb 2026 09:29 0 101 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Dari sebuah studio sederhana dan pertemuan-pertemuan kecil yang dulu hanya diisi sesi jamming tanpa target, tiga nama kini resmi memperkenalkan diri ke publik musik Indonesia.

Sound The Shit, band yang digawangi Kareez (vokal, bass), Taqy Jun (gitar), dan Pungki (drum), membuka langkah debut mereka lewat single perdana berjudul “Dasar Posesif.”

Kelahiran karya ini menjadi penanda keseriusan mereka menapaki dunia hiburan, sekaligus titik temu pertama dengan para pendengar.

“Dasar Posesif” hadir dengan pendekatan yang lugas.

Aransemen musiknya tidak rumit, bahkan cenderung sederhana, namun justru di situlah kekuatannya.

Nada-nada yang catchy, membuat lagu ini mudah melekat di telinga, sementara liriknya memberi ruang bagi pendengar untuk ikut larut dan bernyanyi.

Ia seperti percakapan yang dinyanyikan, ringan di permukaan, namun menyimpan kedalaman di balik setiap bait.

Lagu ini diciptakan oleh Wikha Setyawan, mantan jurnalis yang kini aktif menulis dan juga berkecimpung di dunia akting.

Latar belakang kepenulisan itu terasa dalam pilihan diksi yang dialogis namun tetap ritmis.

“Dasar Posesif membaca asmara, bukan sebagai ruang romantik yang manis, melainkan medan kuasa yang sunyi,” ungkap Wika Setyawan, saat diwawancarai Mondes.co.id, kemarin.

Liriknya sederhana tapi menohok, cinta yang seharusnya menjadi tempat pulang, justru berubah menjadi penjara.

Kalimat seperti “kau selalu bilang cinta, tapi kau ciptakan penjara” terasa seperti pengakuan banyak orang yang lama terjebak dalam relasi penuh klaim dan larangan.

BACA JUGA :  Ternyata Hanya Dua FKPT Kabupaten di Indonesia, Satu di Jepara

Di sini, cinta tak hadir sebagai perayaan, melainkan sistem kontrol yang dibungkus kata sayang.

Dalam konteks sosial, lagu ini menyinggung normalisasi sikap posesif yang kerap dianggap wajar.

Atas nama cemburu, batas-batas dilanggar.

Atas nama cinta, kebebasan dipreteli perlahan.

Tokoh “aku” digambarkan patuh, mengikuti kehendak pasangan, hingga kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Ini potret relasi timpang yang kerap ditemui di pertemanan, keluarga, bahkan lingkungan kerja, ketika satu pihak merasa berhak mengatur hidup orang lain,” kata Wika.

Bagian pre-chorus menjadi titik emosional yang jujur, keinginan akan “cinta yang biasa” dan “hubungan sederhana.”

Tidak muluk, tidak heroik, namun justru terasa mewah ketika relasi dipenuhi tuntutan, kecurigaan, dan pengawasan.

Metafora “boneka” mempertegas hilangnya agensi,.manusia direduksi menjadi objek yang digerakkan sesuai kemauan pemiliknya.

“Menariknya, ‘Dasar Posesif’ juga bisa dibaca sebagai alegori kekuasaan,” kata dia.

Negara, institusi, atau pemimpin yang mengaku melindungi, namun diam-diam membangun tembok pembatas.

Cemburu berubah menjadi dalih keamanan, rindu menjelma pengawasan, dan cinta Tanah Air, disulap menjadi kewajiban patuh tanpa tanya.

Chorus lagu ini terdengar seperti manifesto kecil, bahwa kepercayaan jauh lebih sehat daripada pengekangan.

Secara keseluruhan, lagu ini tidak berteriak, namun konsisten menekan.

Repetisi lirik dan struktur musik yang memberi ruang hening, justru memperkuat pesan.

Ada momen ketika pendengar diajak berhenti, diam, lalu bertanya “apakah ini cinta, atau hanya penjara yang kebetulan disebut rumah”.

Di Balik Perjalanan Sound The Shit

Perjalanan Sound The Shit bukan kisah instan.

Taqy Jun, sang gitaris, telah lama bergelut di dunia musik sejak masa kuliah di salah satu perguruan tinggi Semarang pada 2008.

Ia kemudian bertemu Pungki dan Kareez pada 2018.

BACA JUGA :  Menang Kontra PSIM, Persipa Masih Banyak PR di Kompetisi Liga 2

Dari pertemuan itu, lahir proyek-proyek kecil, ngejam, tampil di kafe, hingga menulis lagu tanpa tekanan industri.

Langkah mereka sempat mendapat angin segar saat bertemu Purwo Wijayanto yang kemudian menjadi eksekutif produser.

Namun, pandemi Covid-19 membuat perjalanan itu tersendat.

Masing-masing kembali pada realitas keseharian.

Taqy bekerja di perusahaan sound system di Semarang, Pungki di sebuah pabrik wilayah Demak, dan Kareez menjalani hari sebagai tukang parkir sekaligus mengamen.

Api yang sempat meredup kembali menyala di akhir 2025, ketika mereka bertemu Wikha Setyawan.

Pertemuan itu seperti memantik bara lama yang belum sepenuhnya padam.

Sound system kembali dinyalakan, gitar disetem ulang, dan drum kembali ditabuh.

Dari proses tersebut, lebih dari 20 lagu disiapkan.

“Dasar Posesif” dipilih sebagai pintu pembuka kehadiran mereka di 2026, sebuah perkenalan yang tidak hanya menawarkan musik, tetapi juga gagasan.

Kini, single tersebut sudah dapat didengar di berbagai platform musik digital, lengkap dengan video musik yang bisa dinikmati melalui kanal YouTube soundtheshit official.

Bagi Sound The Shit, debut ini bukan sekadar rilis lagu, melainkan pengumuman bahwa mereka siap berdiri dengan suara, cerita, dan sikap yang ingin didengar.

Editor: Mila Candra 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini