Foto: Kepala BPBD Kabupaten Rembang, Sri Jarwati (Mondes/Supriyanto) REMBANG – Mondes.co.id | Kesadaran warga Rembang dalam menghadapi ancaman bencana alam, menunjukkan tren positif.
Melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana), masyarakat kini tidak lagi sekadar menjadi penonton saat bencana melanda, melainkan menjadi garda terdepan yang mampu bertindak cepat dan mandiri.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, mengungkapkan bahwa desa-desa yang telah menyandang status Destana, terbukti lebih sigap.
Begitu ada kejadian, warga langsung bergerak melakukan mitigasi awal.
“Alhamdulillah, warga langsung kerja bakti dan melakukan penanganan awal secara mandiri sebelum melapor ke kami. Ini bukti kapasitas dan kepedulian masyarakat kita semakin kuat,” ujar sosok yang akrab disapa Anjar ini, Senin (19/1/2026).
Sejak dirintis di Desa Bendo, Kecamatan Sluke pada 2018, peta kekuatan Destana di Rembang terus meluas.
Hingga tahun 2025, puluhan desa mulai dari pelosok Sluke, Sale, hingga pesisir Lasem, telah resmi ditetapkan sebagai desa tangguh.
Menariknya, muncul fenomena Destana Mandiri seperti di Desa Punjulharjo.
Desa ini berinisiatif membentuk satgas bencananya sendiri tanpa menunggu fasilitasi penuh dari pemerintah, sebuah langkah yang patut dicontoh desa-desa lainnya.
Tahun ini, tantangan bagi BPBD dan pemerintah desa semakin nyata.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) 2025, terdapat 130 desa rawan bencana di Kabupaten Rembang yang direkomendasikan untuk segera membentuk Destana secara mandiri.
Langkah percepatan ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengejar target besar yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Rembang, yakni mewujudkan 100 Destana.
“Harapannya, semakin banyak desa yang tangguh, semakin kecil dampak bencana yang ditimbulkan. Kunci utamanya adalah kolaborasi antara desa, relawan, dan masyarakat,” pungkas Anjar.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar