Foto: Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Rembang (Mondes/Supriyanto) REMBANG – Mondes.co.id | Masalah sampah organik yang kerap memicu aroma tak sedap di Desa Banyuurip, Kecamatan Gunem, kini menemukan solusinya.
Lewat tangan dingin 47 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM), limbah dapur yang tadinya dikeluhkan, kini disulap menjadi pupuk cair bernilai guna, melalui metode komposter sederhana.
Meski Desa Banyuurip sudah memiliki sistem pengolahan sampah anorganik, urusan sampah organik ternyata masih menjadi “pekerjaan rumah” bagi warga.
Bau menyengat dari sisa makanan seringkali mengganggu kenyamanan.
Melihat celah tersebut, tim KKN UGM bergerak cepat.
Ammar, salah satu mahasiswa UGM, menjelaskan bahwa kuncinya ada pada alat yang terjangkau.
“Kami memanfaatkan dua ember bekas agar biayanya murah dan mudah ditiru warga. Hasilnya? Sampah organik tidak lagi berbau dan bisa jadi pupuk,” ungkapnya.
Cara kerjanya pun tergolong simpel.
1. Ember disusun sedemikian rupa dengan sampah kering di dasar dan sampah basah di atasnya.
2. Campuran “ajaib” berupa bioaktivator (EM4), molase (atau gula), dan air ditambahkan untuk mempercepat pembusukan.
3. Dalam waktu 2 minggu hingga satu bulan, pupuk organik cair (POC) siap dipanen melalui kran di bagian bawah ember.

Praktik pembuatan komposter ini disambut hangat oleh ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Banyuurip.
Mereka tak hanya menonton, tapi langsung terjun mempraktikkan cara mengolah limbah dapur tersebut.
Penggunaan air bekas cucian beras yang biasanya dibuang cuma-cuma, kini dimanfaatkan sebagai bahan penguat proses penguraian.
Sumadi, Kabid Litbang Bappeda Kabupaten Rembang, memberikan apresiasi tinggi.
Ia menyebut, inovasi ini sebagai contoh program yang tepat sasaran.
”Tahun 2025 lalu kami bekerja sama dengan 11 perguruan tinggi. Inovasi komposter mahasiswa UGM ini sangat aplikatif. Teknologi sederhana inilah yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat untuk menyelesaikan masalah harian secara berkelanjutan,” tutur Sumadi.
Kehadiran mahasiswa UGM di Rembang tidak hanya soal komposter.
Sebanyak dua kelompok yang tersebar di Kecamatan Pancur dan Gunem juga membawa misi perubahan lainnya.
Mulai dari Pembuatan tepung mokaf dan pestisida alami, mitigasi bencana di sekolah-sekolah, sosialisasi pencegahan perundungan (anti-bullying).
Dengan kolaborasi ini, potensi desa di Rembang diharapkan tidak hanya tergali, tapi juga mampu menjawab tantangan lingkungan dengan cara-cara kreatif yang bisa dilakukan dari dapur sendiri.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar