HAPPY NEW YEAR

Segini Angka Kematian Ibu dan Bayi di Pati, Dinkes Optimalkan Pencegahan

waktu baca 5 menit
Kamis, 1 Jan 2026 12:20 0 33 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mengungkap Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI-AKB) yang dihimpun sejak Januari 2025.

Menurut Ketua Tim Kesehatan Keluarga Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Pati, Mini Eka Prastiwi, data-data tersebut selalu diupdate 24 jam di aplikasi Maternal Perinatal Death Notification (MPDN).

Yang mana, pencatatan tersebut dihimpun di setiap fasilitas kesehatan (faskes) yang tersebar di seluruh Kabupaten Pati.

Dalam aplikasi itu terlihat penyebab serta kronologi terjadinya kasus.

“Selama satu tahun untuk kematian ibu dan bayi kita updatenya 24 jam. Kalau AKI sampai dengan hari ini 13 kasus, kemudian kalau AKB 146 kasus per November, yang Desember belum masuk,” sebutnya kepada Mondes.co.id, Rabu, 31 Desember 2025.

Penyebab AKI-AKB yang terjadi di Kabupaten Pati sangat kompleks.

“Untuk yang kematian ibu paling besar penyebabnya komplikasi yang di luar obstetri. Dan kebanyakan meninggal pada masa nifas. Kejadian paling banyak itu di pertengahan Oktober,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, upaya pencegahan AKI-AKB dilakukan sejak mempersiapkan kondisi kesehatan remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah, edukasi kesehatan reproduksi, dan arahan makan gizi seimbang.

Hal ini supaya menghindarkan para calon ibu mengalami kondisi kurang sehat ketika hamil, sehingga meminimalisir risiko kematian AKI-AKB sejak dini.

“Remaja putri nanti persiapan jadi calon ibu untuk hamil, agar ke depan bayinya sehat dengan berat badan ideal. Karena kematian bayi itu sebagian besar disebabkan berat badan yang kurang dari 2.500 gram, ketika semakin normal berat badannya, semakin layak hidup untuk bayi tersebut,” terangnya.

BACA JUGA :  Adik Pencuri Pisang Diangkat Anak Asuh Kapolsek Tlogowungu Pati

Dalam mencegah AKI-AKB, perlu koordinasi lintas sektoral agar berjalan maksimal.

Selain Dinkes Kabupaten Pati, pihak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak & Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB).

Lalu, Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades), Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Bapperida), Kantor Kementerian Agama (Kemenag), organisasi masyarakat (Ormas), hingga media turut dilibatkan dalam mendukung langkah pencegahan AKI-AKB.

“Untuk pelaksanaannya, tablet tambah darah kita drop ke Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) nanti yang berkoordinasi dengan sekolah-sekolah. Dari sekolah-sekolah tersebut memberikan data jumlah remaja putrinya, kemudian ada distribusi tablet tambah darah yang harus dikonsumsi,” ungkapnya.

Ia menekankan kepada para remaja putri merencanakan dengan baik dan matang kehidupan ke depan, terutama planning kehamilan mereka.

Para calon pengantin atau calon ibu harus melakukan skrining layak hamil pada fase pra-nikah.

“Makanya kita harus menyiapkan remaja putrinya, diharapkan kehamilannya adalah kehamilan yang direncanakan, jadi bukan kehamilan yang tanpa sengaja. Ada skrining layak hamil sebelum menikah dari sejak kesiapan remaja kalau memang ada calon pengantin yang menikah atau pernikahan dini, maka kalau dinyatakan belum layak hamil, bisa ikut program KB (Keluarga Berencana) dulu,” sarannya.

Ia menegaskan bahwa edukasi sangat wajib diberi kepada remaja putri, maka Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menjadi panduan bagi calon ibu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

“Edukasi ke masyarakat tentang gizi seimbang, kemudian pengawasan tanda-tanda bahaya persalinan dengan Buku KIA itu kan ada program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi. Jadi harapannya semua kehamilan itu adalah kehamilan yang direncanakan sehingga mengurangi kejadian yang tidak diinginkan,” harapnya.

BACA JUGA :  RS Mitra Bangsa Bagikan 1.200 Kantong Daging Kurban ke Masyarakat Sekitar

Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kabupaten Pati, Anggia Widiari menambahkan bahwa penurunan AKI-AKB menjadi sebuah program strategis nasional, dan saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati tengah memasifkan langkah itu.

“Angka kematian sangat vital karena kalau ibu meninggal akan meninggalkan anak, dan kita tahu bahwa bayi-anak generasi yang harus kuat, ibaratnya orang hidup nggak cuma secara fisik tapi juga secara psikologis, sehingga mental harus kuat. Makanya, program penurunan angka kematian ibu dan bayi menjadi strategis nasional dan juga dari Bapak Bupati,” ucapnya.

Usia minimal seorang perempuan hamil ketika sudah memasuki 20 tahun.

Sejumlah kematian ibu ditemukan lantaran perempuan belum memasuki kondisi ideal untuk mengandung, permasalahan fisik dan psikis pun jadi faktor.

“Orang hamil harus memikirkan memungkinkan nggak kondisinya untuk mengandung hingga melahirkan? Itu harus benar-benar dipikirkan, karena kondisi kesehatan tubuh terhindar dari penyakit harus dipikirkan. Mari para perempuan melek kesehatan diri agar benar-benar menjadi manusia yang berdaya,” pesannya.

Ia mengatakan, kehamilan merupakan pilhan, sehingga mereka harus sadar kondisi terbaik untuk bisa layak hamil.

“Memang hamil itu adalah pilihan, tapi benar-benar pilihlah yang terbaik untuk kehidupan. Jadi minta tolong dari semuanya untuk benar-benar mensosialisasikan, bantu terkait dengan dampak perkawinan anak, persiapan perempuan untuk menjadi hamil, seperti itu, karena harus siap secara fisik dan secara mental,” ujarnya.

Anggi juga menerangkan tentang Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) yang terdiri dari berbagai komponen yakni penolong persalinan, tempat persalinan, pendamping persalinan, transportasi, dan calon donor darah.

Selain itu, ada pula 12 T atau 12 standar pemeriksaan dan pelayanan Antenatal Care (ANC) terpadu untuk memantau kesehatan ibu dan janin.

BACA JUGA :  Gegara Obat Nyamuk, Kamar Ludes Terbakar

Mulai dari Timbang BB, Tinggi Badan, Tekanan Darah, Tentukan Status Gizi, Imunisasi Tetanus, TTD (Tablet Tambah Darah), Tes Lab, Tatalaksana Kasus, Temu Wicara/Konseling, Tentukan Usia Kehamilan, Tentukan Letak Janin & Denyut Jantung, dan Temu Kembali/Jadwal.

“P4K mulai seorang perempuan dia harus siap hamil. Mulai dari menikah lah, memilih pasangan yang tepat, memastikan bahwa dia harus benar-benar memeriksakan di tenaga kesehatan yang berkualitas. Ada pun 12 T yang wajib diperhatikan,” bebernya.

Disampaikannya bahwa banyak tenaga kesehatan di Kabupaten Pati berkompeten.

Ia menyebut ada 16 dokter kandungan, 280 dokter umum, dan ribuan bidan. Kemudian, ada 29 Puskesmas dengan fasilitas USG.

“Sumber Daya Manusia yang ada di fasilitas kesehatan itu harus benar-benar diperhatikan mulai dari bidan, dokter, sistem rujukan. Dan selama ini segala akses kesehatan sudah bisa didapat, namun kesadaran masyarakat yang minim perlu ditingkatkan,” katanya.

Dalam mencegah peningkatan AKI-AKB di Kabupaten Pati, ia mengajak para perempuan lebih bijak dalam merencanakan kehamilan.

Serta, pihak keluarga utamanya suami bisa berperan aktif mendampingi istri supaya bisa melahirkan dalam kondisi sehat.

Editor: Mila Candra 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini