ramadan 2026

Ramadan sebagai Madrasah Literasi Umat Muslim

waktu baca 3 menit
Selasa, 10 Mar 2026 12:54 0 19 Dian A.

Mondes.co.id | Ramadan bukan hanya titik waktu, ia juga penanda sebuah revolusi yang mengonversi sebuah tradisi yang mula-mula lisan menjadi tercatatkan.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Perintah iqra’ atau membaca adalah disrupsi bagi masyarakat Arab kala itu.

Kesusastraan yang melembaga secara oral, tiba-tiba saja dicerabut dan dipindahkan ke bentuk literal.

Ini bukan hanya evolusi, tetapi revolusi pemikiran yang membawa masyarakat Arab kala itu untuk lebih mendekat pada keadaban dan keberadaban.

Oral yang cenderung temporal, diubah menjadi literal yang lebih berkelanjutan.

Ramadan adalah madrasah literasi yang mengajak kita semua untuk membumi, sembari mengedepankan esensi.

Peristiwa Nuzulul Qur’an adalah tonggak literasi, sebab Allah melalui malaikat Jibril memerintahkan kita semua untuk membaca, bahkan di awal nubuat kenabian.

Ramadan adalah forum literasi komunal dengan dibukanya bilik-bilik pengetahuan dalam bentuk kajian.

Ia juga mendorong kita untuk berliterasi secara sosial dengan membaca kondisi kemasyarakatan.

Lapar pada Ramadan memahamkan kita tentang hal paling mendasar yang berhubungan dengan perut dan kekuatan.

Infaq, sedekah, dan zakat, mengajarkan betapa sebagian harta kita dapat menjadi sarana pemberi kebahagiaan, serta instrumen pelepas penderitaan.

Jadi, sejak mula-mula, bulan mulia ini mempunyai visi literasi yang tinggi.

Pada bulan mulia ini, guna melanjutkan visi keberlanjutan akan ilmu pengetahuan yang tercatatkan.

Yoyok Dwi Prastyo, Ketua Komunitas Penggerak Literasi Litbar mencoba mangayubagya dengan merilis buku berjudul Masih Ada Tuhan di Moskow.

Buku setebal 203 halaman ini membawa kebaruan.

“Buku ini sebenarnya diterbitkan jelang Ramadan. Ia adalah instrumentasi agar ketika menjalani Bulan Suci, masyarakat tak benar-benar meninggalkan literasi,” kata pria berkaca mata tersebut.

BACA JUGA :  Mudik Gratis Pati, Pemkab Sediakan 10 Bus untuk Perantau Jabodetabek

Kebaruan yang dibawa buku ini lebih kepada tema yang agak berani, yakni mengenai psikologi, dan pendekatan yang menyertai.

Berbagai permasalahan coba dikupas dalam dosis rendah yang diharapkan bisa menginfiltrasi tiap-tiap nilai secara sunyi dan tak
membebani.

Sebagai mnemonik, pada bagian paling akhir dari tiap artikel diberikan sebuah simpulan.

Kemudian, pada badan artikelnya disuguhkan cerita yang mencoba mengekstraksi permasalahan yang agak berat menjadi lebih easy dan penuh solusi.

Tak hanya solusi, untuk tiap permasalahan psikologi juga dikaitkan dengan teori atau kondisi-kondisi tertentu, sehingga lebih mudah dipahami dan lebih terpermaknai.

Satu contoh, pada permasalahan self harm, penulis mencoba merefleksikannya dengan adagium homo homini lupus, sekaligus homo socius yang dikaitkan dengan resiliensi serta kintsugi, sebuah seni pengeramikan di Jepang.

Pada resiliensi, penulis mencoba mengajak pembaca untuk merayakan duka lara dengan motivasi dan suka cita melalui kata-kata.

“Beruntunglah orang yang berada di posisi paling bawah, sebab tak ada tempat lain baginya kecuali melenting ke atas. Berbahagialah orang yang berada di paling belakang, sebab satu-satunya tempat baginya hanyalah maju ke depan”.

“Ya, tema yang dibawakan memang agak berat, sehingga diusahakan untuk memberikan sudut pandang baru, serta direlasikan secara lintas ilmu agar insight yang diperoleh bisa terbangun secara utuh. Beberapa simtom yang diketengahkan dicoba untuk
diulas dan diseksamai secara presisi. Bila dirasa terlalu berat, maka simulasi melalui narasi ditambahkan agar tercapai ekuilibrasi,” jelas Yoyok lebih jauh.

Beberapa penelitian merilis bahwa literasi dapat membantu mengatasi inner child, serta beberapa gejala psikologis.

Di bulan Ramadan ini, akan menjadi sebuah keberuntungan yang luar biasa apabila perintah membaca diejawantahkan bukan sekadar dalam bentuk kata-kata, tetapi juga tindak nyata.

BACA JUGA :  Hemat Ongkos, Warga Jepara Dapat Fasilitas Balik Mudik Gratis

Bukan hanya Alquran yang dinikmati, tetapi juga buku-buku lain yang dapat menyertai derap langkah kita dalam berliterasi.

Kegiatan literasi adalah aktivitas yang diharapkan memberikan solusi psikologis, penambah pengetahuan, dan asupan positif pada pikiran sekaligus penguat budaya, utamanya pada bulan Ramadan yang mulia.

“Masih Ada Tuhan di Moskow adalah semacam sukoshi zutsu, usaha pelan dan pasti serta sedikit demi sedikit untuk lebih menyuarakan konsep, simtom, serta solusi psikologi pada masyarakat. Selain juga dimaksudkan untuk mendukung Ramadan sebagai madrasah literasi dengan memberikan bahan bacaan sebagai pengasup gizi dan pembangkit kognisi,” pungkas lelaki yang suka membaca itu.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini