Panen Raya Harga Anjlok, Petani Jagung Jukung Rembang Terjepit Stok Melimpah

waktu baca 3 menit
Selasa, 10 Feb 2026 16:24 0 304 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Hamparan ladang jagung seluas 17 hektare di Desa Jukung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, kini tengah memasuki masa panen raya.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Namun, gairah panen yang seharusnya menjadi momen sukacita, justru berubah menjadi keluh kesah bagi para petani setempat.

Ironisnya, melimpahnya hasil bumi kali ini dibarengi dengan merosotnya harga jual di tingkat petani secara drastis.

​Berdasarkan pantauan di lapangan, penurunan harga ini terjadi sangat signifikan dalam waktu singkat.

ketua pgri

Semula, harga jagung di wilayah tersebut masih bertahan di angka Rp4.400 per kilogram.

Namun, seiring dengan masuknya masa panen serentak, harga terjun bebas menjadi Rp3.500 per kilogram.

​Merosotnya harga hingga selisih hampir Rp1.000 ini, diduga kuat akibat hukum pasar.

Di mana, stok barang yang melimpah tidak diimbangi dengan serapan yang proporsional.

Salah satu tokoh tani setempat, Dwi Harsono, mengungkapkan bahwa selain faktor ketersediaan stok, pihak pembeli atau tengkulak kini menjadi jauh lebih selektif dalam menyerap hasil panen.

​”Kami sangat mengeluhkan kondisi ini. Pasca panen raya, harga malah turun drastis. Yang semula Rp4.400 per kilogram, sekarang tinggal Rp3.500 per kilogram,” ujar Dwi Harsono.

​Menurut Dwi, kendala utama yang dihadapi petani saat ini adalah syarat kadar air.

Di tengah cuaca yang kerap dilanda hujan berhari-hari di wilayah Kecamatan Bulu, menjaga kualitas jagung agar tetap kering, menjadi tantangan besar.

Para pembeli saat ini enggan menyerap jagung dalam kondisi basah atau berkadar air tinggi.

​Kondisi cuaca yang tidak menentu, memaksa para petani untuk memutar otak.

BACA JUGA :  Seorang Lansia Ditemukan Meninggal di Kios Pasar Ngabul 

Bagi mereka yang memiliki modal lebih, penggunaan mesin pengering (oven), menjadi solusi terakhir agar produk mereka tetap dilirik pasar.

​”Kalau yang punya modal, jagungnya di-oven agar benar-benar kering. Soalnya pembeli saat ini sama sekali tidak mau menerima jagung basah. Sementara hujan terjadi berhari-hari, jadi susah kalau hanya mengandalkan jemur matahari,” terangnya lagi.

​Meskipun harus menelan pil pahit akibat penurunan pendapatan yang mencapai Rp900 per kilogram.

Para petani di Desa Jukung mengaku tidak memiliki pilihan lain, selain terus melanjutkan proses panen.

Jika tidak segera dipetik, risiko kerusakan tanaman, justru akan semakin memperparah kerugian mereka.

​Meski dihantam penurunan harga, semangat para petani di Desa Jukung tidak lantas padam.

Mereka tetap terlihat sibuk memanen jagung di lahan belasan hektare tersebut, sembari berharap ada intervensi atau kebijakan dari pihak terkait untuk menstabilkan harga komoditas jagung.

​”Meski harga turun, kami tetap semangat memanen. Harapan kami tentu ada perbaikan harga ke depannya agar selisih modal tanam dan hasil panen masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” pungkas Dwi.

​Kondisi ini menjadi potret klasik tantangan sektor pertanian di Rembang.

Di mana saat produktivitas mencapai puncak, ketahanan harga justru menjadi titik lemah yang seringkali merugikan produsen pangan di tingkat paling bawah.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini