ramadan 2026

Modul Anti Pencabulan di Pesantren Disosialisasikan

waktu baca 3 menit
Selasa, 2 Des 2025 17:06 0 471 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Berita terkait kasus kekerasan seksual yang terjadi di Pondok Pesantren, menjadi perhatian serius bagi sejumlah tokoh agama dan pengasuh pesantren.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Termasuk bagi KH M Yusuf Chudlori dan Hindun Anisah.

Begitu pun juga Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan para ulama dan pengasuh pesantren, persoalan kekerasan seksual ini juga menjadi perhatian serius.

Berkaitan dengan itu, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perempuan Bangsa menyelenggarakan sosialisasi Modul Anti-Pencabulan di Kalangan Pesantren yang diikuti 750 peserta dari kalangan pengasuh pesantren, kiai, bu nyai, asatidz, asatidzah, dan para santri Kabupaten Jepara di gedung NU Kecamatan Tahunan Jepara, kemarin.

Peserta berasal dari Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Mubalighat (JP3M), Jam’iyyah Mudarasatil Qur’an Lil Hafidzah (JMQH), Rabithah Ma’ahidil Islamiyyah (RMI), Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP).

Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia (MP3I), Keluarga Santri Jepara (KSJ), Alumni Krapyak Yogyakarta (AKRAP), Ikatan Alumni Salafiyah Pasuruan (IKSAS), Alumni Tegalrejo Magelang dan Himpunan Alumni Santri Lirboyo Kediri (HIMASAL).

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang, KH M Yusuf Chudlori semua pihak harus peduli pada masalah ini.

Gus Yus, panggilan akrab KH Yusuf Chudlori menceritakan, pada momentum halaqah di RRI Yogyakarta beberapa waktu lalu, sejumlah ulama, dan pengasuh pesantren menyampaikan terjadinya penurunan jumlah santri yang mendaftar pada sejumlah pondok pesantren di Yogya.

Bahkan, hal ini tidak hanya terjadi di Yogyakarta, tetapi di mayoritas pesantren besar di Indonesia.

BACA JUGA :  Berangkat ke Tanah Suci Akhir Bulan Mei, Jemaah Haji Jepara Wajib Perhatikan Hal Berikut

Penurunan ini diketahui karena beberapa faktor, di antaranya adalah faktor ekonomi, faktor banyaknya pendidikan umum, beasiswa di sekolah formal, dan banyaknya berita negatif tentang pesantren.

“Tidak kita pungkiri karena banyaknya berita negatif pesantren, seperti kasus pencabulan oleh kyai, kekerasan, bullying, sampai pada pencabulan antar santri baik lawan jenis maupun sejenis. Ini jelas pengaruh,” kata Gus Yus.

Di zaman keterbukaan seperti saat ini, Gus Yusuf ini mengibaratkan pesantren sebagai akuarium yang bisa terlihat dengan jelas isinya.

Sehingga pesantren harus bertransformasi menjadi lebih baik.

”Masalah kecil jangan dibiarkan dengan menganggap itu persoalan oknum. Yang kecil justru bisa besar dan kalau dibiarkan, kasus akan terjadi di mana-mana,” jelasnya.

Untuk mencegah dan menangani kasus ini, DPP PKB berupaya untuk merespon cepat dengan membuat Modul Anti Pencabulan di Pesantren.

Modul ini merupakan hasil diskusi para tokoh agama pada Agustus 2025 lalu.

”Modul ini dirancang sebagai panduan mengenali, mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual di pesantren,” ungkap Ketua DPW PKB Jawa Tengah.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum bidang organisasi dan kaderisasi, DPP Perempuan Bangsa, Hindun Anisah, menegaskan pesantren harus menjadi ruang aman dan bebas dari kekerasan seksual.

”Ini adalah wujud tanggung jawab moral dan spiritual kita untuk menjaga kehormatan santri dan menjaga pesantren,” kata Bunda Hindun.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari, Bangsri Jepara, modul anti pencabulan di pesantren hadir sebagai alat edukasi dan pencegahan demi melindungi kehormatan, serta keselamatan santri dan institusi pesantren.

”Modul ini akan terus kita sebarkan ke seluruh pesantren,” tegas Bunda Hindun yang juga Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyyah PBNU ini.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini