Foto: Rangkaian kegiatan buka luwur Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin di kompleks makam Mantingan (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Masyarakat Kabupaten Jepara bersuka cita menyambut Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara.
Sendratari Ratu Kalinyamat mengawali prosesi Buka Luwur di Pendopo Kartini, Kabupaten Jepara.
Sendratari ini mengangkat kisah kepahlawanan dan perjuangan Ratu Kalinyamat, sosok penting dalam sejarah Jepara yang dikenal berani melawan penjajah Portugis, serta memiliki pengaruh besar dalam perkembangan Jepara pada masa lalu.
Prosesi dilanjutkan kirab dari Pendopo Kartini menuju kompleks Makam Mantingan.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo (Mas Wiwit) dan Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar (Gus Hajar), memimpin kirab dengan menunggang kuda.
Forkompinda, Kepala Perangkat Daerah, berserta masyarakat ikut meramaikan Kirab Buka Luwur, konsepnya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Masyarakat tumpah ruah di sepanjang jalan yang dilalui Kirab Buka Luwur.
Bupati Mas Wiwit dan Wakilnya menyapa masyarakat yang sudah menunggu.
Masyarakat tak menyia-nyiakan moment itu, mereka menyalami Mas Wiwit, bahkan mengajak Bupati Jepara berfoto di sepanjang jalan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, rombongan kirab beserta kain luwur baru untuk makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin diterima di depan Balai Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan.
Rombongan diterima pasukan rebana. Prosesi kemudian berlanjut hingga penggantian luwur di kompleks makam.

Setelah prosesi di makam, rombongan mengikuti salat ashar berjamaah di Masjid Mantingan, santunan yatama, dan makan tumpeng bersama.
Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan, rangkaian ziarah dan buka luwur tahun ini menjadi bagian dari refleksi Hari Jadi Jepara.
Menurut dia, prosesi itu mengingatkan kembali hubungan Jepara dengan para tokoh leluhur.
“Ini menjadi bagian dari refleksi hari jadi Jepara,” ujarnya, kemarin.
Unsur berkuda, berkereta, dan bersepeda sengaja dihadirkan dalam kirab tahun ini.
Menurut dia, simbol itu diharapkan membawa semangat bagi pemerintahan daerah.
“Kuda itu melambangkan kekuatan. Mudah-mudahan pemerintah daerah juga punya tenaga dan semangat untuk setahun ke depan,” kata dia.
Bupati juga menyinggung berbagai pekerjaan rumah yang masih menjadi fokus, mulai dari infrastruktur, kesehatan, hingga pendidikan.
Menurutnya, seluruh aspek tersebut menjadi tanggung jawab yang harus dituntaskan dalam masa kepemimpinannya.
Petinggi Mantingan M. Syafi’i mengatakan, kirab luwur tahun ini membawa unsur baru dibanding pelaksanaan sebelumnya.
Salah satunya terlihat dari prosesi pemanggulan luwur sejak dari kabupaten hingga tiba di Mantingan.
“Kalau dulu luwur tidak dipanggul seperti sekarang. Tahun ini berbeda, karena dibawa dan dipanggul sampai ke sini,” tuturnya.

Menurut dia, penggunaan kuda dan kereta dalam kirab juga memberi nuansa berbeda dalam prosesi tahun ini.
Ia menilai unsur tersebut menghadirkan suasana yang lebih dekat dengan jejak masa lalu.
“Itu seperti mengenang masa lalu. Dulu belum ada kendaraan bermotor, yang ada kuda dan kereta,” terangnya.
Setelah prosesi penggantian luwur selesai, masyarakat tetap memadati kawasan makam dan Masjid Mantingan.
Mereka mengikuti rangkaian acara hingga makan tumpeng bersama.
Pergantian Luwur Makam Mantingan adalah tradisi budaya religius yang berlangsung di kompleks makam Makam Mantingannyang berkaitan dengan tokoh penting seperti Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat.
Luwur sendiri merupakan kain penutup makam (semacam kelambu atau kain putih) yang melambangkan kesucian dan penghormatan kepada tokoh yang dimakamkan.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar