Lokalisasi dan Karaoke Tutup, Open BO Menjadi Fenomena Alternatif Cari Cuan

waktu baca 2 menit
Jumat, 27 Agu 2021 11:43 0 635 mondes

PATI-Mondes.co.id| Dampak penutupan tempat hiburan malam, seperti tempat mesum dan karaoke, di Pati, Jawa Tengah, memunculkan fenomena baru. Agar tetap bisa mendapat uang (cuan dalam bahasa gaul), maka sejumlah wanita penghibur mulai main BO (booking out).

Sementara pemandu karaoke (PK) ramai-ramai menggadaikan kendaraan.

“Fenomena baru tersebut, memang mulai terjadi,” demikian diungkapkan seorang penggiat Peduli Pati Damai, KH Achmad Muhfidz, SH, Selasa (24/8/2021).

Sebagaimana diketahui, dalam kurun dua bulan terakhir ini, pemkab Pati gencar melakukan penutupan sejumlah tempat karaoke. Serta menutup tempat mesum, seperti Lorong Indah di Margorejo. Penutupan didasarkan untuk menghindari penyebaran virus Corona. Serta, karena penggunaan lokasi yang tidak sesuai perda RT/RW.

Penutupan tempat hiburan juga terjadi di sepanjang jalur Pantura Jateng bagian timur, seperti di Rembang.

Khusus untuk penutupan tempat hiburan di wilayah kabupaten Pati, mendapat dukungan dari sejumlah ormas. Seperti dari Ansor, PMII dan Pemuda Muhammadiyah.

Berdasar keterangan yang dihimpun menyebutkan, sejumlah wanita penghibur mulai kehabisan uang. Menyusul ditutupnya tempat hiburan, dalam dua bulan terakhir ini.

“Sehingga, di antara mereka ganti main BO (booking out). Tempatnya ada yang di hotel, kadang juga di tempat kos. Ada juga yang menggadaikan mobil. Tapi ini tidak mudah. Karena pemilik dana takut ada cegatan dari pihak yang membelikan mobil. Lantaran, tidak sedikit perempuan penghibur yabg dikreditkan kendaraan oleh pacarnya,” tutur Wiwid, warga kecamatan Margorejo.

Senentara itu, anggota presidum LSM Dewan Kota, Drs H Pramudya mendesak pemkab Pati melakukan antisipasi terhadap kemungkinan dampak negatif yang timbul setelah penutupan tempat hiburan. Yakni kemungkinan perpindahan praktek prostitusi ketempat lain. Seperti di jalan, rumah kos dan hotel.

Baca Juga:  Pemkab Kudus Tampung Aspirasi dari Hilir Lewat Ngantor di Desa

“Kalau hal semacam itu tidak diantisipasi, dimungkinkan praktek mesun akan menjadi liar dan tidak terkontrol” kata Pramudya.

Sedang dai kondang Pati, KH Dr Sadullah MPd mengingatkan perlunya perhatian pemkab Pati untuk memperhatikan nasib mantan perempuan penghibur. Yakni harus intens ada pembinaan.

“Sesuai azas perikemanusiaan, negara menjamin kesejahteraan warganya. Mereka harus dicarikan solusi. Sehingga bisa menyambung hidup” tuturnya.

(*/Mondes)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini