HAPPY NEW YEAR

Kisah Sukses Petani Kedondong Rembang

waktu baca 3 menit
Sabtu, 17 Jan 2026 13:55 0 36 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Dusun Jatirejo, Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai sentra penghasil buah kedondong di wilayah Jawa Tengah.

Dengan lahan seluas puluhan hektar yang terbentang hijau, tanaman kedondong telah menjadi urat nadi perekonomian warga setempat selama bertahun-tahun.

​Meskipun saat ini petani sedang menghadapi tantangan fluktuasi harga, optimisme tetap terpancar dari wajah para petani yang menggantungkan hidupnya pada buah dengan rasa asam manis yang khas ini.

​Mbah Saminu, salah satu tokoh petani di Dusun Jatirejo, mengungkapkan bahwa kondisi harga jual kedondong saat ini sedang mengalami penurunan yang cukup signifikan, dibandingkan masa kejayaannya.

​”Saat ini, buah kedondong ukuran sedang dan besar dihargai sekitar Rp3.000 per kilogram. Sedangkan untuk ukuran kecil, harganya berada di kisaran Rp2.600 per kilogram,” jelas Mbah Saminu saat ditemui di sela kesibukannya.

​Penurunan ini terasa cukup tajam, mengingat sebelumnya harga kedondong pernah menyentuh angka Rp7.000 per kilogram.

Meski demikian, para petani tetap terus memanen dan merawat kebun mereka karena volume produksi yang dihasilkan masih mampu memberikan keuntungan.

​Tak hanya sekadar memanen, Mbah Saminu juga jeli melihat peluang bisnis dengan melakukan pembibitan mandiri.

Ia menjual bibit kedondong hasil budi dayanya seharga Rp15.000 per batang.

Dijual kepada warga atau pendatang yang ingin mencoba peruntungan di bidang perkebunan ini.

​Secara pribadi, Mbah Saminu mengelola sekitar 400 pohon kedondong.

Dalam satu tahun, hasil penjualan buah dari pohon-pohon miliknya bisa mencapai angka Rp40 juta.

BACA JUGA :  Satlantas Polresta Pati Genjot Pelayanan Publik Berbasis Empati

Pendapatan ini menjadi tumpuan besar bagi keluarganya, bahkan menjadi modal utama untuk membiayai pendidikan tinggi bagi generasi penerusnya.

​”Dari hasil buah kedondong yang kami punya, sangat membantu perekonomian keluarga, bahkan bisa membantu membiayai kuliah cucu,” tambah Mbah Saminu dengan nada bangga.

Ia juga mempersilakan siapapun yang ingin melihat langsung atau melakukan survei ke lahan seluas kurang lebih 10 hektar di wilayahnya tersebut.

​Kelebihan bertani kedondong di wilayah Bulu ini juga Dwi Harsono, petani asal Desa Jukung yang juga beraktivitas di lahan tersebut.

Menurut Dwi, lahan kedondong memiliki karakteristik yang memungkinkan petani menerapkan sistem tumpang sari.

​Di bawah naungan pohon-pohon kedondong, lahan tanah yang ada tidak dibiarkan menganggur.

Saat ini, mayoritas petani memanfaatkan celah lahan tersebut untuk menanam jagung.

​”Benar mas, di sini puluhan hektar petani menanam kedondong. Selain menghasilkan buah, tanah di bawahnya saat ini juga bisa ditanami jagung yang hitungannya bulan sudah bisa panen,” tutur Dwi.

​Menurutnya, strategi ini sangat efektif untuk menjaga stabilitas keuangan petani.

Jika harga kedondong sedang turun seperti sekarang, petani masih bisa berharap pada hasil panen jagung.

“Otomatis penghasilan petani dalam satu lahan tidak hanya dari kedondong saja, tapi juga bisa menghasilkan tanaman yang lain,” pungkasnya.

​Kecamatan Bulu, khususnya Dusun Jatirejo, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata berbasis perkebunan kedondong.

Dengan hamparan pohon yang mencapai puluhan hektar, kawasan ini tidak hanya menawarkan hasil bumi, tetapi juga pemandangan hijau yang asri.

​Masyarakat berharap, ke depannya ada perhatian lebih dari pihak terkait mengenai stabilisasi harga dan pengembangan industri pengolahan pasca-panen, agar buah kedondong dari Rembang ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan jangkauan pasar yang lebih luas.

BACA JUGA :  Demo di Alun-alun Tayu, Masyarakat Tak Ingin Terus Dibenturkan

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini