Foto: Sarasehan budaya Donorojo (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Pendopo Kecamatan Donorojo menjadi saksi bisu sebuah pertemuan bersejarah.
Puluhan pegiat seni, budayawan, hingga juru kunci makam se-Kecamatan Donorojo berkumpul dalam sebuah Sarasehan Budaya yang penuh khidmat, Rabu (25/2/2026).
Acara yang mengusung misi pelestarian sejarah lokal ini dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai lembaga adat, paguyuban, hingga komunitas lintas daerah seperti Kabupaten Pati.
Kegiatan diawali dengan prosesi kirab Bendera Merah Putih dan Pataka Paguyuban Budaya.
Secara simbolis, KRMT Iwan Nugroho menyerahkan pataka tersebut kepada Camat Donorojo, Widyantoro, sebagai tanda bahwa pemerintah kecamatan siap menjadi wadah dan fasilitator bagi denyut nadi seni budaya di wilayahnya.
Dalam sambutannya, Widyantoro menekankan bahwa kegiatan ini adalah langkah nyata mewujudkan visi misi Bupati Jepara, khususnya pada poin “Lestari”.
“Sarasehan ini harus kontinyu. Kita bergerak untuk melestarikan adat tradisi yang ada di desa-desa, sekaligus menghormati para leluhur yang telah berjuang babad alas di Donorojo,” tegasnya, Kamis (26/2/2026).
Suasana semakin mendalam saat Nimas, seorang siswa kelas IV SD, membacakan puisi tentang Donorojo, disusul kidung Macapat yang menyentuh kalbu dari Sanggar Mastika.
Diskusi utama menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain KRMT Iwan Nugroho (Kacirebonan/Budaya TV Nusantara) yang membahas mengenai sejarah dan babad desa.
Gus Mahfud (Pengasuh Ponpes Serambi Nusantara Santiko Pati) yang memberikan pencerahan dari sisi ketauhidan.
Serta, Mbah Subri Tedjo Sasono (Mastika) dan Gus Sulkan (Budayawan).
Salah satu poin menarik yang memicu diskusi hangat adalah status Desa Tulakan sebagai desa tertua.
Juga jejak sejarah di Dukuh Simo (Blingoh) yang diyakini sebagai tempat menyepi Ratu Shima setelah turun takhta menjadi Brahmani.
Pertemuan ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul.
Pada akhir sesi, disepakati lima rekomendasi penting yang akan disampaikan langsung kepada Bupati Jepara.
Pertama, penyelarasan persepsi untuk membedakan dengan jelas antara sejarah faktual, cerita rakyat, dan dongeng terkait makam-makam keramat.
Kedua, penulisan sejarah masing-masing desa secara resmi di laman web desa/kecamatan.
Ketiga, pemasangan papan informasi menggunakan Aksara Jawa dan kata-kata bijak (pitutur luhur) di tiap desa.
Keempat, pembentukan Paguyuban Lembaga Adat Desa dan Paguyuban Juru Kunci Makam.
Kelima, mengarahkan setiap pentas seni agar tidak hanya menjadi tontonan, tapi juga tuntunan moral bagi masyarakat.
Kehadiran 12 juru kunci dari berbagai situs penting, mulai dari Makam Ki Dalem Winong, Syayid Ustman Mondoliko, hingga Kyai Nursalim Jugo menjadi bukti bahwa sinergi antara ulama, pemerintah, dan budayawan di Donorojo semakin solid.
“Budaya adalah akar, dan tugas kita adalah memastikan akar tersebut tetap kuat agar pohon peradaban kita tidak tumbang oleh zaman,” pungkas Wawan dari Mastika saat memaparkan materi tentang filosofi Pitung Dino.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar