HAPPY NEW YEAR

Gagal Panen, Petani Jagung di Pati Pilih Merantau ke Luar Jawa

waktu baca 2 menit
Selasa, 6 Jan 2026 14:08 0 149 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Petani jagung di Desa Wukirsari mengalami kerugian total akibat gagal panen jagung pada Musim Tanam Pertama (MT 1).

Menurut keterangan Kepala Desa (Kades) Wukirsari, M. Sulistiono, warganya memilih untuk pergi merantau ke luar Pulau Jawa untuk menambal kerugian maupun menyambung hidup.

Hal itu terjadi, imbas tak ada hasil dari pertanian jagung.

“Kebanyakan warga yang sehat dan kuat banyak yang merantau ke luar Jawa, ke Kalimantan, Sumatera, cari kerja apalagi bentar lagi Lebaran. Kerjanya ada yang di tambang emas, perkebunan sawit, perkebunan karet, mayoritas di tambang emas,” ungkapnya saat diwawancarai Mondes.co.id, Selasa, 6 Januari 2025.

Selama ini, petani sudah modal untuk membeli bibit, obat, pupuk, dan komponen budi daya lainnya.

Sayangnya, hama tikus yang merajalela, menghancurkan harapan petani jagung.

Setiap petani, dikatakannya rugi belasan hingga puluhan juta dari adanya kegagalan panen ini.

Mereka pun tidak dapat mendulang pundi-pundi rupiah untuk dijual.

“Satu hektar kerugian sekitar Rp10-an juta ada, untuk pupuk dan segala macamnya. Akibat serangan tikus ini, membuat hasil jagung mengecil, biasanya untuk pakan ternak,” lanjutnya.

Ia menegaskan, tidak ada lagi predator yang hidup di kawasan pertanian tersebut.

Hal ini menyebabkan tikus dalam kondisi aman dari pemangsa.

“Kalau saya amati, tikus selama saya besar, baru saat ini ada sebanyak ini. Dari pengamatan saya dari rangkaian makanan itu sendiri yang terbatas, musuhnya tikus sudah jarang seperti ular maupun burung, terbatas,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Kepala Sekolah di Pati Diminta Tidak Asal Berikan Nilai Tinggi Kepada Siswa, Timsus Pengawasan akan Dibentuk

Langkanya jagung ini berdampak pada melonjaknya harga komoditas satu ini.

Untuk jagung basah senilai Rp4.500 per kilogram, sedangkan jagung kering senilai Rp7.000 per kilogram.

Meski harga tinggi tetapi tidak ada barangnya, sangat percuma bagi petani.

Sejauh ini, ia mengaku jika tidak ada asuransi yang diberikan dari pemerintah untuk petani jagung akibat keganasan hama tikus.

Pihak pemerintah saat ini baru memberikan solusi berupa obat tikus untuk menghentikan merebaknya populasi organisme pengganggu tanaman itu.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini