Leptospirosis di Pati Meningkat Tajam, IKA UNDIP Minta Upaya Pencegahan Diperketat

waktu baca 3 menit
Sabtu, 27 Jun 2026 16:23 0 74 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Kabupaten Pati saat ini menghadapi peningkatan kasus leptospirosis yang cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati, Januari hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 172 kasus dengan 21 kasus kematian, meningkat tajam dibandingkan sepanjang tahun 2025 yang mencatat 61 kasus dengan 17 kematian.

Hal ini turut ditekankan Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Diponegoro (UNDIP) Kabupaten Pati, Dr. Ling. Ahmad Qosim, S.KM., M.T.

“Angka ini menunjukkan bahwa leptospirosis masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah pertanian, tambak, dan daerah yang sering mengalami genangan air,” ujarnya, Sabtu, 27 Juni 2026.

Qosim menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit zoonosis atau penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan kepada manusia.

Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri Leptospira yang umumnya berasal dari urine tikus dan dapat masuk ke tubuh melalui luka pada kulit maupun selaput lendir setelah seseorang kontak dengan air, lumpur, tanah, makanan, atau minuman yang telah terkontaminasi.

“Penularan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh interaksi antara bakteri sebagai agen penyakit, manusia sebagai inang yang rentan, dan lingkungan yang mendukung penularan, sebagaimana konsep Trias Epidemiologi,” ujarnya.

Ia mengatakan, lingkungan yang lembab, banyak genangan air, sanitasi yang kurang baik, tingginya populasi tikus, serta aktivitas masyarakat di sawah, tambak, dan saluran air, menjadi faktor yang meningkatkan risiko penyebaran leptospirosis.

Karena itu, pengendalian penyakit tidak cukup hanya dilakukan melalui pengobatan pasien, tetapi juga harus menyasar sumber penularan dan faktor lingkungan.

BACA JUGA :  Sebanyak 6.000 Blangko KTP Sudah Tersedia, Warga Pati Menyerbu

“Apabila hanya fokus mengobati penderita tanpa memperbaiki lingkungan dan mengendalikan sumber penularan, maka risiko munculnya kasus baru akan tetap tinggi,” tegas Qosim.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan gejala awal leptospirosis seringkali menyerupai influenza, demam berdarah, maupun tifus, sehingga kerap terlambat dikenali.

Padahal pada kondisi yang berat, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan ginjal, kerusakan hati, gangguan pernapasan, pendarahan, hingga berujung pada kematian.

“Masyarakat perlu mewaspadai gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot terutama pada betis, mual, muntah, mata merah, dan tubuh terasa lemah. Jika mengalami demam setelah kontak dengan genangan air atau lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus, segera periksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit agar mendapat penanganan sedini mungkin,” ungkapnya.

Menurut Qosim, leptospirosis sebenarnya dapat disembuhkan, apabila terdeteksi lebih awal dan memperoleh penanganan yang tepat.

Oleh sebab itu, kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri, menjadi salah satu kunci dalam menekan angka kematian akibat penyakit tersebut.

“Selain deteksi dini, masyarakat juga harus aktif menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menutup makanan dan minuman dengan baik, menggunakan sepatu boot dan sarung tangan saat bekerja di lingkungan berisiko, serta segera membersihkan dan mengobati luka yang terkena air atau lumpur,” ujarnya.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, IKA UNDIP Kabupaten Pati turut menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan instansi terkait.

Rekomendasi tersebut meliputi penguatan sistem surveilans hingga tingkat desa, peningkatan edukasi masyarakat, pengendalian populasi tikus secara terpadu, perbaikan sanitasi dan drainase, serta memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kami juga mendorong pemerintah melakukan pemetaan wilayah berisiko tinggi sebagai dasar intervensi yang lebih efektif serta memperkuat kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat agar pengendalian leptospirosis dapat berjalan secara menyeluruh,” tandasnya.

BACA JUGA :  Jelang Lebaran, Ratusan Kapal Berlabuh di Pesisir Pati

Sebelumnya, Ketua Tim (Katim) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pati, Yanti, mengungkapkan kasus leptospirosis dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan.

Pada 2022 tercatat sebanyak 28 kasus, kemudian meningkat menjadi 37 kasus pada 2023.

Pada 2024 menurun menjadi 22 kasus.

Jumlah tersebut kembali melonjak menjadi 61 kasus pada 2025.

Sedangkan pada Januari hingga Mei 2026 ini sudah 172 kasus di Kabupaten Pati.

“Kasus leptospirosis biasanya meningkat pada awal tahun saat musim penghujan. Kabupaten Pati sebagai daerah pertanian memiliki kelompok masyarakat yang cukup rentan, terutama petani, nelayan, dan pekerja tambak yang sering bersentuhan dengan lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus,” ujarnya ketika diwawancarai, belum lama ini.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini