Foto: Suasana unjuk rasa JMPPK di depan Kantor Setda Pati, belum lama ini (Mondes/Singgih) PATI – Mondes.co.id | Aktivis Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Gunretno menyayangkan adanya penyusutan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Sukolilo.
Diketahui, luasan KBAK Sukolilo seluas 11 ribu hektare, namun kini sudah tinggal 7 ribu hektare saja.
“Penyusutan KBAK Sukolilo sejak 2010, awalnya 11 ribu hektare. Tapi tahu-tahu ada revisi Perda (Peraturan Daerah) Tata Ruang, ciut menjadi 7 ribu hektare,” sebutnya kepada awak media, beberapa waktu lalu.
Kawasan yang menyusut ini memengaruhi habisnya mata air di Pegunungan Kendeng.
Oleh karena itu, JMPPK berupaya untuk mengembalikan luasan KBAK menjadi semula.
Jika dibandingkan dengan wilayah Kabupaten Grobogan, luasan KBAK masih tetap.
Ia menilai, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan berhasil memelihara Pegunungan Kendeng yang tetap lestari.
“Sebagai pembanding Grobogan, Pemda berhasil usulkan kawasan KBAK tetap berpijak pada titik mata air dilindungi. Pemda di Pati ini kenapa ada penyusutan? Semua mata air harus dilindungi,” ucap Kang Gun sapaannya.
Jika Pemkab Pati kesulitan melakukan kajian lingkungan hidup, maka JMPPK bersedia mendatangkan akademisi dan para pakar.
Pihaknya membantu mengusut berdasarkan kapasitas.
“Kami minta kajian yang membidangi. Kalau pemerintah keberatan, JMPPK kami siap membantu bangun jaringan akademisi yang membidangi untuk perluasan KBAK,” pungkas tokoh Sedulur Sikep itu.
Editor; Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar