Pasutri Asal Tlogoayu Pati Selamat dari Kebakaran Bus ALS, Perades Ungkap Kisah di Baliknya

waktu baca 3 menit
Sabtu, 9 Mei 2026 15:50 0 54 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Musibah yang dialami pasangan suami istri asal Kabupaten Pati bernama Ngadiono alias Beno (44) dan Jumiatun (35) memicu gelombang simpati.

Keduanya merupakan warga Desa Tlogoayu, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati yang merupakan korban selamat dalam tragedi kecelakaan maut bus ALS.

Warga Desa Tlogoayu, Kecamatan Gabus, Pati tersebut lantas mendapat perhatian dari tetangga dan perangkat desa (Perades) setempat.

Sebagai informasi, kecelakaan maut yang menimpa bus ALS terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) pada Rabu, 6 Mei 2026.

Diceritakan oleh Perades Tlogoayu sekaligus tetangga korban, Siti Nur Hayati, peristiwa nahas itu terjadi saat mereka hendak mengadu nasib berjualan kasur kapuk ke Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Meski selamat, keduanya mengalami luka bakar cukup parah dan saat ini masih menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit Muratara, sebelum dirujuk ke RS Bhayangkara Palembang.

Siti mengungkapkan bahwa para warga awalnya sempat tidak percaya mendengar kabar tersebut.

“Antara percaya sama tidak. Karena kan awalnya itu saya dengar mau naik pesawat berangkatnya, tapi kok di dalam berita itu ada Pak Ngadiono sama istrinya, dan sempat diberitakan asalnya dari Kendal,” ujar dia saat ditemui di depan kediaman korban, Sabtu, 9 Mei 2026.

Rumah keluarga Beno yang bercat putih dan berkeramik biru, terlihat sepi tak berpenghuni.

Siti mengungkapkan, pasangan Ngadiono-Jumiatun memiliki dua orang anak.

Anak sulung mereka yang laki-laki sudah menyusul ke Sumatera.

BACA JUGA :  HIV AIDS Menghantui, Tes VCR Masih Menjadi Momok

Sedangkan, anak bungsu yang perempuan tinggal di rumah, tetapi saat hendak diwawancarai sedang bersekolah di salah satu Madrasah Aliyah (MA) swasta.

Siti mengatakan, profesi sebagai penjual kasur kapuk keliling di luar pulau sudah ditekuni Beno sejak lama.

Dalam setahun, Beno bisa berangkat hingga tiga kali dengan durasi menetap selama dua hingga tiga bulan.

“Biasanya berangkat sendiri, tapi kali ini istrinya diajak untuk membantu masak dan mencuci di sana,” ungkapnya.

Sistem penjualan yang dilakukan Beno dengan cara berkeliling dari rumah ke rumah dan menawarkan sistem kredit atau cicilan kepada pembeli.

“Di sana juga mutangke (mengkreditkan), tidak cash. Jadi harus sabar menunggu uang terkumpul,” jelas Siti.

Kecelakaan yang dialami Beno dan Jumiatun lantas menyisakan duka mendalam bagi anak-anak korban.

Diceritakan, putra sulung mereka, Joni (20), sempat syok dan menjerit saat pertama kali menerima kabar.

Kemudian, putri bungsunya, Rani, yang masih duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah, kini harus tinggal sendirian di rumah dengan pengawasan neneknya yang sudah lansia dan tinggal di rumah terpisah.

Meski biaya pengobatan diinformasikan telah ditanggung oleh pemerintah daerah setempat dan difasilitasi oleh pemerintah daerah (Pemda), Siti menekankan bahwa keluarga kini membutuhkan bantuan untuk biaya hidup harian, terutama bagi anak yang ditinggalkan di rumah.

“Tulang punggungnya bapaknya itu yang memberi nafkah, jadi sekarang yang dibutuhkan putranya untuk biaya hidup harian. Kami dari pihak warga dan pemerintahan desa berencana menggalang donasi untuk membantu anak yang di rumah,” tutur Siti.

Sosok Beno di mata warga dikenal sebagai pribadi yang aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk rutin mengikuti jemaah Yasin bapak-bapak.

BACA JUGA :  Puskom Pati Bakal Prioritaskan Kegiatan Sosial di Masyarakat

Warga berharap pasangan suami istri ini segera mendapatkan kesembuhan maksimal dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga di Pati.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini