Kesenian Tayub di Desa Banyumanis Jadi Magnet Ruwat Bumi Jepara

waktu baca 2 menit
Senin, 4 Mei 2026 11:25 0 32 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Alunan gamelan berlaras pelog menyambut hangat kedatangan warga di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara.

Di tengah riuhnya suasana Sedekah Bumi, kesenian Tayub kembali menjadi primadona yang menyatukan doa syukur dan hiburan rakyat.

Kesenian Tayub yang identik dengan gerakan gemulai para penari ledhek dan interaksi akrab dengan penonton, bukan sekadar hiburan biasa bagi masyarakat Banyumanis.

Kegiatan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual Sedekah Bumi, sebuah tradisi turun-temurun untuk memanjatkan syukur atas hasil panen yang melimpah, sekaligus memohon perlindungan bagi desa.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Ali Hidayat hadir memberikan apresiasi tinggi terhadap kelestarian seni tradisional ini.

Menurutnya, keberadaan Tayub di era modern merupakan bukti ketahanan budaya masyarakat Jepara.

“Saya sangat mengapresiasi masyarakat Desa Banyumanis yang tetap konsisten menjaga marwah kesenian Tayub. Di era digital ini, melihat anak-anak muda masih ikut menyaksikan dan menghargai tradisi ini adalah sebuah kebanggaan bagi kita semua,” ujar Ali Hidayat di sela-sela kegiatan, kemarin.

Tayub saat ini telah bertransformasi tanpa meninggalkan akar budayanya.

Jika dulu sempat ada stigma negatif, kini Tayub lebih menonjolkan sisi estetika tari dan nilai filosofis kebersamaan.

Tayub bukan hanya soal menari, tapi soal etika interaksi sosial.

“Kami dari pihak dinas terus berupaya agar kesenian seperti ini tidak hanya muncul saat ritual desa, tapi juga bisa menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menarik wisatawan luar daerah ke Jepara,” katanya.

BACA JUGA :  Tonjok Polisi, Warga Pohijo Kena Bui

Para tokoh masyarakat setempat berharap dukungan dari pemerintah daerah terus mengalir, baik dalam bentuk pembinaan kelompok seni maupun promosi kegiatan.

Dengan begitu, kesenian Tayub tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap menjadi identitas yang hidup bagi generasi mendatang di Bumi Kartini.

“Tayub adalah simbol ketahanan budaya kita. Di tengah gempuran zaman, masyarakat Banyumanis membuktikan bahwa identitas lokal tetap menjadi tuan rumah di tanah sendiri,” kata Ali.

Sedekah Bumi di Desa Banyumanis simbol kerukunan warga yang terus terjaga di bawah naungan tradisi leluhur.

Tidak hanya di Desa Banyumanis, Tayub ini juga mendapat tanggapan di sejumlah desa yang menggelar sedekah bumi.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini