Menelusuri Sejarah Pawai Subuh Suci Jemaat Margokerto Sejak 1988

waktu baca 3 menit
Minggu, 5 Apr 2026 13:08 0 142 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Masyarakat Margokerto, Desa Bondo, Kecamatan Bangsri menyambut Pawai Subuh Suci, Minggu (5/4/2026).

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Pawai Subuh Suci telah menjadi tradisi bagi Jemaat GITJ Margokerto, Bondo, Jepara sejak 38 tahun lalu dalam merayakan kebangkitan Tuhan Yesus.

Mulai diselenggarakan pada tahun 1988,  semula diprakarsai oleh Ketua Komisi Sekolah Minggu GITJ Margokerto Krisworini bersama guru sekolah minggu, di antaranya Margaret Satumi, Sumarti, Hariyati, dan Sudarmi.

Prosesi Pawai Subuh Suci yang diikuti oleh ribuan jemaat ini dimulai pada pukul 03.30 WIB.

ketua pgri

Mereka terdiri dari warga jemaat sekolah minggu, remaja, pemuda, dan jemaat dewasa.

Acara pawai subuh suci dimulai di depan GITJ Margokerto dan dibuka dengan doa oleh pendeta Tri Atmono M.Th.

Mereka keliling padukuhan Margokerto dengan membawa obor, lampion, dan lilin.

Mereka juga menaikkan pujian untuk kemuliaan nama Tuhan, juga memakai berbagai macam aksesoris yang melambangkan kebangkitan Yesus.

Suasana sakral begitu terasa, saat ratusan lampion, lilin, dan juga obor dinyalakan mengiringi langkah mereka untuk melakukan pawai subuh suci.

Dengan membawa obor dan menyanyikan pujian bagi kebesaran Tuhan, jemaat berkeliling padukuhan Margokerto.

Prosesi  diakhiri dengan ibadah Subuh Suci di halaman belakang  gereja yang dipimpin oleh Pdt. Tri Atmono dengan tema Menang Tanpa Perang yang diambil dari Roma 6: 9-10.

Pada akhir acara, dilakukan pembagian telur Paskah, makan bersama, dan pembagian hadiah kepada peserta terbaik oleh ketua panitia, Kusbiyantoro.

Hadir juga pendeta Pentakosta Fani S.Th, Pendeta Rano Surita, Guru Injil Elia Dwi Apriyanti, dan Ketua Majelis Eko Prasetyo bersama anggota majelis dan  para pengurus komisi dan kelompok.

BACA JUGA :  PAD Pati 2024 Lampaui Target, Capai Rp450,9 Miliar

Sebelumnya, telah dilakukan ibadah dan doa puasa pada 30 Maret–1 April 2026 serta ibadah Jumat Agung dan Perjamuan Kudus pada tanggal 3 April 2026.

Sejarah

Jemaat yang didirikan pada tahun 1901 oleh Guru Injill Esrom bersama 7 temannya ini merayakan paskah dengan menyelenggarakan prosesi ritual penyaliban hingga kebangkitan Tuhan Yesus.

Prosesi ini disebut sebagai pawai subuh suci.

Kini, salah satu jemaat tertua ini memiliki warga jemaat sekitar 2.300 jiwa.

Menurut Ketua Umum Majelis GITJ Margokerto Eko Prasetyo, prosesi pawai obor subuh suci ini merupakan tradisi yang digelar setiap tahun, sejak tahun 1988.

Ritual itu tetap dipertahankan sampai sekarang karena dinilai sebagai cara yang tepat untuk merayakan kebangkitan Yesus, sekaligus menjaga kebersamaan umat.

“Harapan kami ada semangat yang baru dalam semua lini pelayanan, kebersamaan, persekutuan, mengembangkan kreativitas sebagai media untuk kesaksian bagi warga masyarakat secara umum juga luar daerah,” pungkas Eko Prasetyo.

Prosesi pawai Subuh Suci yang mulai digelar tahun 1988, semula hanya dilakukan oleh anak-anak sekolah minggu dan diselenggarakan oleh Komisi Sekolah Minggu GITJ Margokerto.

Namun kemudian berkembang hingga melibatkan seluruh warga jemaat.

Editor: Mila Candra 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini