ramadan 2026

Diterjang Angin Kencang dan Wereng, Panen Padi di Kaliori Anjlok hingga 30 Persen

waktu baca 3 menit
Sabtu, 28 Feb 2026 15:38 0 68 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Rembang beberapa pekan terakhir, mulai membawa dampak serius bagi sektor pertanian.

Hujan deras yang disertai angin kencang di wilayah Kecamatan Kaliori, mengakibatkan puluhan hektar tanaman padi siap panen menjadi roboh.

Tak hanya faktor cuaca, serangan hama wereng kian memperparah kondisi psikologis dan finansial para petani.

​Kondisi memprihatinkan ini terlihat jelas di Desa Mojorembun dan Dusun Ngumpleng, Desa Gunungsari.

Hamparan padi yang seharusnya berdiri tegak menunggu giliran panen, kini nampak merunduk rata dengan tanah akibat diterjang angin kencang.

​Bagi para petani, padi yang roboh bukan sekadar soal pemandangan yang menyedihkan, melainkan biaya operasional yang membengkak.

Damun, salah seorang petani asal Desa Mojorembun, mengisahkan betapa sulitnya memanen padi dalam kondisi rebah.

​Ia terpaksa mengeluarkan tenaga ekstra dan biaya tambahan untuk mengikat batang-batang padi yang roboh, sebelum mesin pemanen otomatis (combine harvester) atau yang akrab disapa comby, bisa bekerja.

​”Iya mas, hujan angin beberapa hari terakhir ini mengakibatkan padi kami roboh. Jadi harus diikat dulu satu per satu, supaya bisa diangkat dan diproses mesin comby,” keluh Damun saat ditemui di sawahnya dengan raut wajah lelah.

​Kisah serupa juga dialami oleh Sunardi, petani asal Dusun Ngumpleng, Desa Gunungsari.

Baginya, musim panen kali ini terasa sangat berat.

Selain dihantam cuaca buruk, tanaman padinya juga menjadi sasaran empuk hama wereng yang mematikan.

BACA JUGA :  10 Jemaah Haji Pati Telah Tiba di Tanah Air 

​Kombinasi antara bencana alam dan serangan hama ini, membuat produktivitas lahan sawahnya menurun drastis.

Sunardi mencatat penurunan hasil panen yang sangat signifikan, mencapai angka 30 persen dari biasanya.

​”Biasanya kalau cuaca normal dan tidak roboh, lahan saya bisa menghasilkan 1 ton padi. Tapi karena sekarang pada roboh dan diperparah serangan wereng, panen pertama kali ini hanya dapat 7 kuintal (700 Kg),” ungkap Sunardi dengan nada kecewa.

​Kondisi ini memicu keresahan di kalangan petani terkait aksesibilitas alat mesin pertanian (alsintan).

Sunardi menyoroti sulitnya mencari mesin comby saat masa panen raya tiba.

Seringkali, petani di Kaliori harus berebut atau mendatangkan alat dari luar daerah dengan biaya yang tentu tidak murah.

​Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Rembang, melalui Dinas Pertanian, bisa melakukan pemerataan distribusi alat pertanian modern di setiap wilayah agar petani tidak lagi kesulitan saat momen krusial panen.

​Tak hanya soal alat, Sunardi juga menyuarakan kebingungan para petani dalam menangani hama wereng yang kian masif.

Ia berharap ada tindakan nyata dan edukasi langsung dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

​”Kami berharap di Kabupaten Rembang ada pemerataan comby di setiap daerah. Kalau soal wereng, jujur kami sendiri masih bingung solusinya. Kami sangat berharap PPL atau Dinas Pertanian lebih proaktif memberikan arahan teknis kepada kami yang di bawah ini,” tambahnya menutup pembicaraan.

​Hingga berita ini diturunkan, para petani di wilayah Kaliori hanya bisa pasrah sembari berharap cuaca segera membaik, agar sisa lahan yang belum dipanen tidak mengalami kerusakan yang lebih parah.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini