HAPPY NEW YEAR

Menyelamatkan Pulau Gede Sebelum Lenyap, Benteng Terakhir Pesisir Rembang 

waktu baca 2 menit
Selasa, 3 Feb 2026 18:10 0 41 Supriyanto

REMBANG – Mondes.co.id | Hilangnya Pulau Marongan dari peta geografi, menjadi luka sekaligus peringatan keras bagi masyarakat Rembang.

Kini, mata publik tertuju pada Pulau Gede, sang “benteng alami” yang kondisinya kian kritis.

Isu penyelamatan pulau eksotis ini pun meledak menjadi pembahasan paling hangat dalam Musrenbangcam Kaliori, Selasa (3/2/2026).

​​Tokoh masyarakat Desa Wates, Harjono, menyampaikan kekhawatiran mendalam yang mewakili keresahan warga pesisir.

Baginya, Pulau Gede bukan sekadar tempat wisata, melainkan tameng yang melindungi daratan Kaliori hingga Rembang dari amukan ombak angin barat dan timur.

​”Abrasi ini bukan main-main. Kalau tidak segera diamankan, Pulau Gede bisa bernasib sama dengan Pulau Marongan yang sudah hilang ditelan laut. Sekarang saja luasnya sudah tinggal separuh,” ujar Harjono dengan nada getir.

​Harjono mengusulkan solusi teknis berupa pembangunan jetty atau pemecah ombak berbentuk huruf U.

Menurutnya, infrastruktur ini akan berfungsi ganda, yakni sebagai pelindung abrasi, sekaligus magnet pariwisata yang mampu mendongkrak ekonomi lokal.

​Mendengar laporan tersebut, Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’, tak menampik adanya ancaman nyata tersebut.

Ia mengakui bahwa kekayaan pulau kecil di Rembang kini sedang berada di titik nadir.

​”Pulau Gede ini eman (sayang sekali). Sekarang kita hanya punya Pulau Gede dan Pulau Siwalan yang tersisa. Ini adalah aset berharga yang harus kita jaga mati-matian,” tegas Gus Hanies.

​Meski kewenangan pengelolaan pulau kecil berada di tangan pemerintah provinsi, Gus Hanies memastikan Pemkab Rembang tidak akan tinggal diam dan akan membawa isu ini ke tingkat yang lebih tinggi.

BACA JUGA :  Desa Sumbersoko Pati Bakal Dipilih Jadi Lokasi Batalyon Teritorial

​Sebagai aksi cepat tanggap, Gus Hanies mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya menunggu pembangunan fisik.

Ia menyerukan gerakan sosial melalui penanaman mangrove secara masif dengan melibatkan komunitas lingkungan, BPD, hingga para relawan.

​”Kita bisa kirim relawan untuk nandur (menanam) bareng-bareng di Pulau Gede. Konsepnya ‘wisata sambil menanam’. Kita selamatkan lingkungannya, kita nikmati keindahannya,” ajaknya.

​Langkah ini diharapkan menjadi pemantik bagi gerakan yang lebih besar untuk memastikan Pulau Gede tetap tegak berdiri sebagai pelindung ekologis dan warisan bagi generasi mendatang.

Jangan sampai, anak cucu kita kelak hanya mengenal nama Pulau Gede melalui buku sejarah, seperti nasib Pulau Marongan.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini