HAPPY NEW YEAR

Gempuran Modernisasi, Tradisi Ruwahan di Desa Maguan Tetap Lestari  

waktu baca 2 menit
Sabtu, 31 Jan 2026 16:01 0 63 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Di tengah gempuran teknologi dan pergeseran gaya hidup modern, masyarakat pedesaan di Kabupaten Rembang, rupanya masih memegang teguh warisan leluhur.

Salah satu tradisi yang hingga kini masih tampak hidup dan kental akan nuansa kebersamaan adalah Ruwahan.

​Di Desa Maguan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, bulan Sya’ban atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa, bukan sekadar pergantian waktu menuju Ramadan.

Bagi warga setempat, ini adalah momentum sakral untuk menghormati leluhur, sekaligus mempererat tali persaudaraan antar tetangga.

​Berbeda dengan perayaan besar yang dipusatkan di satu titik, tradisi Ruwahan di Desa Maguan memiliki keunikan tersendiri.

Masyarakat setempat biasanya mengadakan hajatan atau sedekahan secara bergilir, lantunan doa bergema dari satu rumah ke rumah lainnya.

​”Ini sudah menjadi adat turun-temurun. Kami mengundang tetangga kanan-kiri dan tokoh agama untuk berkumpul. Tujuannya satu, mendoakan arwah orang tua dan leluhur agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Lasmin, warga Maguan, Sabtu (31/1/2026).

​Dalam setiap gelaran Ruwahan, kehadiran pemuka agama atau Kiai setempat, menjadi sentral.

Acara dimulai dengan pembacaan tahlil, tahmid, dan doa bersama yang dipimpin dengan khidmat.

Suasana guyub sangat terasa ketika warga duduk bersila di atas tikar tanpa memandang status sosial.

​Meski generasi muda saat ini sudah sangat akrab dengan gadget dan media sosial, partisipasi mereka dalam tradisi Ruwahan di Desa Maguan tergolong masih tinggi.

​Tokoh masyarakat setempat menilai bahwa lestarinya Ruwahan di Maguan, disebabkan oleh kesadaran warga bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan media bersosialisasi paling efektif.

BACA JUGA :  Sedekah Bumi Pekalongan, Sinergi Budaya dan Spiritualitas

​”Ruwahan adalah cara kami ‘mengerem’ sejenak kesibukan duniawi. Di sini kita bertemu, mengobrol, dan saling bersilaturahmi sebelum masuk bulan puasa. Modernitas tidak harus menghapus jati diri kita sebagai orang Jawa yang religius,” ungkap Mbah Yamin, seorang tokoh agama setempat.

​Budaya gotong royong dan sedekah yang tercermin dalam Ruwahan, dianggap sebagai modal sosial yang kuat untuk menjaga kondusifitas dan kerukunan warga.

​Dengan tetap terjaganya tradisi Ruwahan, Desa Maguan membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak selalu harus berbenturan dengan nilai-nilai lama.

Bagi mereka, mendoakan yang telah tiada dan menyambung silaturahmi dengan yang masih ada, adalah kunci ketenangan hidup.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini