HAPPY NEW YEAR

Kritik Santun, Aktivis Santri Asal Pati Bela Martabat Pesantren di Tengah Sorotan Publik

waktu baca 4 menit
Kamis, 16 Okt 2025 13:37 0 824 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Baru-baru ini salah satu media nasional, membuat heboh publik dengan menarasikan potret lingkungan pondok pesantren (Ponpes) berdasarkan sudut pandang yang sempit.

Dalam acara yang tayang di salah satu channel televisi nasional, menayangkan ilustrasi suasana Ponpes yang tidak kredibel, bahkan narasi yang dibawakan pengisi suara terkonsep provokatif dan dinilai menjelekkan citra Ponpes.

Hal demikian pun disikapi oleh salah seorang santri asal Kabupaten Pati, yakni A’ida Sufrotus Sofi (23).

Menurutnya, media tersebut tidak memberikan keberimbangan informasi dalam tayangan tersebut.

Sehingga kondisi itu sangat menyalahi kode etik jurnalistik.

A’ida yang notebene aktif di dunia jurnalistik, memandang siaran tersebut melihat lingkungan Ponpes dari satu sisi saja.

“Saya pernah berkecimpung di dunia jurnalistik dan media berita di NU (Nahdlatul Ulama) online. Kurang pas dalam menyajikan keberimbangan informasi dalam jurnalistik, harusnya media tidak memihak pada satu sisi, apalagi yang disinggung adalah dua budaya yang tidak ada kaitannya,” ungkap alumni Ponpes Darul Falah Kudus kepada Mondes.co.id, Kamis, 16 Oktober 2025.

Menurutnya, ragam sajian informasi yang tidak saling berkaitan dibentur-benturkan, yakni antara menunduk di hadapan kiai dan memberi amplop kepada kiai.

Ia melihat informasi yang dibenturkan itu pun tidak dibedah secara mendalam esensinya, sehingga menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

Di dunia pesantren, budaya menunduk kepada kiai atau ulama terjadi karena bentuk rasa hormat maupun toleransi.

Bahkan, tradisi itu bukan hanya ada di Ponpes saja, melainkan di kehidupan sehari-hari dalam kebudayaan Indonesia, maupun yang diriwayatkan Rasulullah Muhammad SAW.

BACA JUGA :  Dinilai Produktif, Baznas Jepara Diganjar Penghargaan 

“Yang diangkat dua ilustrasi, menunduk dan memberikan amplop. Kalau pengambilan susu dengan menunduk bukan serta-merta menuhankan guru sampai bersujud, namun cara kita menghargai bahwa ada kebudayaan yang pernah dilakukan Rasul dan para sahabat, bahwa pada zamannya saat ada sahabat mau sholat Jumat ada orang tua berjalan di depannya, beliau menunggu sampai pada akhirnya orang tua tersebut belok ke gereja. Di sini sisi toleransi ditegakkan,” terangnya.

“Apalagi guru dengan koneksi spiritualnya yang bagus dan mengajarkan berbagai ilmu dan adab. Beliau mendoakan kita di setiap ibadah,” imbuh wanita asal Desa Slungkep, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati itu.

Gadis yang kini menempuh studi Magister di International Open University (IOU) Africa itu, juga menerangkan bahwa kejadian yang selama terjadi di Ponpes kaitannya pemberian amplop kepada kiai dengah tulus ikhlas, sebagai bentuk rasa terima kasih.

Mereka (santri) hanya membalas kebaikan yang mereka mampu kepada guru di Ponpes.

“Terkait pemberian amplop banyak sekali Ponpes yang memprogramkan iuran tanpa kadar nominal. Namun yang disayangkan menampilkan pengasuh Ponpes Lirboyo, beliau tidak pernah main Sosmed (sosial media) dan berkecimpung di gemerlapnya dunia, dan tidak pernah meminta-minta ke santri. Mereka memberikan amplop sebagai rasa terima kasih mereka karena mereka tidak bisa membalas kebaikan dengan cara yang kita (santri) bisa,” urai lulusan Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati.

Sebagai santri ia menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh media nasional tersebut.

Meski begitu, ia menyikapi kejadian itu dengan bijak tanpa menyalahkan semua unsur yang ada di dalam perusahaan media tersebut.

“Saya sebagai santri tidak setuju dengan boikot (televisi nasional terkait), karena kalau boikot menggeneralisir atau menyamakan semua yang ada. Padahal ketika mencerna situasi, ada oknum tim Xpose yang salah menginformasikan,” ucapnya.

BACA JUGA :  Petani Minta Pemerintah Setop Impor Garam dan Tetapkan HPP

A’ida tidak ingin banyak orang yang tidak bersalah, justru dianggap sebagai bagian dari oknum yang menjelek-jelekkan Ponpes di Indonesia.

Sebagai santri sejati, ia mencoba menengahi masalah ini dengan menyampaikan solusi atas adanya kegaduhan, tanpa emosi.

“Kalau kita menyebarluaskan seruan boikot, mungkin banyak yang tidak bersalah diikutkan. Sebagai santri kita bisa berada di tengah-tengah tidak tersulut emosi,” lanjutnya.

A’ida menyampaikan pentingnya mengedukasi masyarakat maupun netizen terhadap budaya Ponpes yang ada di Nusantara.

Penekanan bahwa Ponpes bukan menjadi tempat perbudakan atau wadah melanggengkan feodalisme, kudu berjalan.

“Kita bisa mengedukasi dengan fakta dan data bahwa budaya pondok tidak perbudakan atau feodalisme, ada banyak pondok dari kiai yang murni mengabdi untuk negara. Masyarakat harus lebih pintar membaca media,” pesannya.

Ia mengingatkan kepada media supaya menyajikan informasi untuk memberikan pencerdasan kepada masyarakat, utamanya yang berkaitan dengan lingkungan Ponpes.

Menurutnya, informasi sumbang terkait Ponpes, sering dimanfaatkan oknum media untuk menaikkan rating saja.

“Kita sering mendapati banyak media digital atau koran yang tujuannya bukan mengedukasi tapi mengutamakan view. Dengan begitu, ada banyak kejadian yang bahas pesantren, itu menjadi ladang viral untuk sebuah jurnalis biar mereka mendapat view, alhasil merangkum budaya Ponpes dalam kemasan negatif,” pungkasnya.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini