Foto: Punden Dusun Jambu Desa Krikilan Kecamatan Sumber (Mondes/Supriyanto) REMBANG – Mondes.co.id | Di tengah gempuran modernisasi dan kemudahan akses air bersih melalui jaringan pipa, sebuah sumur tua di Dusun Jambu, Desa Krikilan, Kecamatan Sumber, tetap berdiri kokoh.
Bukan sekadar lubang galian berisi air, sumur yang diyakini telah berusia ratusan tahun ini, menjadi simbol kerukunan dan saksi bisu sejarah “babat alas” wilayah tersebut.
Hingga hari ini, sumur tersebut masih aktif digunakan warga untuk berbagai kebutuhan sehari-hari maupun ritual adat.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan sumur ini lebih dari sekadar sumber mata air, melainkan jantung budaya yang menyatukan warga dalam ikatan kekeluargaan yang erat.
Sumur tua ini memiliki kedudukan istimewa dalam kalender tradisi warga Dusun Jambu.
Setiap kali mendekati prosesi Sedekah Bumi, area di sekitar sumur akan dipadati warga.
Tempat ini menjadi lokasi utama untuk menggelar syukuran atau selamatan.
Warga meyakini bahwa dengan menghormati sumber kehidupan di lokasi tersebut, menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil bumi.
Ritual tahlil dan doa bersama di sekitar sumur menjadi pemandangan rutin, menciptakan harmoni antara nilai spiritual dan pelestarian sejarah.
Sejarah sumur ini tak lepas dari sosok misterius yang dikenal masarakat dengan nama julukan Mbah Kodok.
Menurut penuturan tokoh agama setempat, Ustaz Maskuri, pengasuh Majelis Asmaul Husna, area di sekitar punden (tempat keramat) tersebut merupakan salah satu titik awal perkembangan Dusun Jambu.
”Mbah Kodok diyakini warga secara turun-temurun merupakan salah satu cikal bakal atau tokoh yang membuka jalan (babat hutan) di Dusun Jambu,” ujar Ustadz Maskuri, Jumat (30/1/2026).
Meski sejarah detail mengenai asal-usul asli tokoh tersebut mulai lamat-lamat ditelan zaman, Ustaz Maskuri menekankan bahwa substansi dari penghormatan ini bukanlah pada pemujaan sosoknya, melainkan pada nilai persatuan yang dihasilkan.
Bagi Ustaz Maskuri, keberadaan punden dan sumur tua ini adalah media sosial yang efektif untuk mempererat silaturahmi antar warga.
Aktivitas mengirim doa kepada leluhur dianggap sebagai pengingat akan jasa mereka yang telah susah payah membuka lahan untuk ditinggali anak cucu.
”Yang terpenting, sebenarnya bukan siapa beliau atau asal dari mana secara spesifik, tapi bagaimana adanya pepunden di desa ini, membuat masyarakat dapat menciptakan kerukunan. Seperti halnya diadakan tahlil bersama, mengirim doa ke leluhur yang dulu babat hutan, membuat desa ini ada,” tambahnya.
Kini, Sumur Tua Dusun Jambu di Desa Krikilan menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu bertahan di era digital.
Selama airnya masih mengalir dan doa-doa masih dipanjatkan, semangat kebersamaan warga Dusun Jambu diyakini akan tetap abadi seperti usia sumur tersebut.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar