Foto: peringatan Haul Syayid Ustman Mandalika (Mondes/Dian) JEPARA – Mondes.co.id | Ratusan jemaah antusias menyeberangi lautan menuju Pulau Mandalika untuk menghadiri peringatan Haul Syayid Ustman Mandalika.
Dengan menaiki perahu, para peziarah mendatangi makam tokoh penyebar agama Islam yang terletak di sisi selatan pulau tersebut.
Rangkaian kegiatan haul ini diinisiasi oleh Modin Zen dengan dukungan penuh dari masyarakat Desa Ujungwatu, serta pemuda Ansor.
Petinggi Desa Ujungwatu Sungatono, mengatakan selain haul Syayid Ustman, acara ini juga dirangkaikan dengan haul massal dalam rangka menyambut bulan Ruwah.
Kegiatan dimulai dengan ziarah kubur ke makam Syayid Ustman.

Puncak acara dilaksanakan dalam bentuk pengajian umum yang menghadirkan KH Ahmad Marzuki, mantan Bupati Jepara sebagai pembicara utama.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Kabag Kesra Setda Jepara, Camat Donorojo, hingga anggota DPRD Jepara Al Maruf.
“Tercatat sekitar 300 peziarah mengikuti prosesi di pulau, sementara jemaah pengajian umum mencapai angka 1.000 orang, didukung oleh pengamanan dari Banser, Fatayat NU, dan Muslimat,” ujar petinggi desa, Sabtu (7/2/2026).
Tokoh masyarakat Donorojo Iwan Nugroho menceritakan, Syayid Ustman bukan sekadar tokoh agama biasa.
Beliau merupakan Nayoko Projo (pejabat pemerintahan) Kadipaten Jepara pada masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat.
Sebelumnya, beliau adalah abdi dalem Kesultanan Demak Bintoro di era Raden Patah.
Memiliki garis keturunan dari Sunan Ampel, Syayid Ustman mendapatkan tugas menyebarkan Islam di wilayah Donorojo bersama Ki Mangun Sutowijoyo dan Ki Leseh.
Secara silsilah, Syayid Ustman merupakan leluhur dari keluarga besar Mbah KH. Maimun Zubari Lasem.
Makam Syayid Ustman terletak di pinggir pantai selatan Pulau Mandalika.

Meski begitu, konon makam ini tidak pernah terendam air laut, meskipun kondisi air laut sedang pasang tinggi.
Hal unik yang menyelimuti keberadaan makam ini, menambah kekeramatan dan daya tarik bagi para peziarah yang datang dari berbagai penjuru.
Sedangkan untuk makam Ki Leseh sekarang berada di kompleks Benteng Portugis, Donorojo.
“Beliau membabat alas (membuka hutan) Alas Tuwo untuk dijadikan permukiman dan pusat dakwah,” kata Iwan.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar