Foto; Bagus Dikha Sabrillano, mahasiswa Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Mondes/Istimewa) Mondes.co.id | Pasca munculnya fenomena yang berkaitan dengan praktik dalam keagamaan, timbul beberapa pertanyaan di masyarakat terhadap praktik-praktik keagamaan tersebut.
Terkait benarkah bahwa ajaran agama justru mengajarkan kepada sikap Feodalisme Mutlak kepada seseorang yang dihormati atas dasar keilmuannya?
Atau apakah benar bahwa budaya yang diadopsi oleh agama dari budaya lokal benar mengajarkan Feodalisme tersebut?
Dan benarkah bahwa doa-doa kyai/ulama memiliki keistimewaan yang mengalahkan doa-doa pribadi seorang hamba biasa?
Secara pribadi, saya beranggapan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan atas dasar keagamaan, perlu mengklarifikasi dan menjelaskan secara detail.
Terkait budaya pesantren yang seolah-olah santri harus tunduk dan secara mentah menerima berbagai doktrin untuk tunduk dan patuh kepada seorang Kyai dan Dzuriyyahnya (keturunan).
Bahkan, sampai seorang santri harus menunjukan adab/tata krama yang menunjukan penghormatannya pada sang Kyai dan Dzuriyyahnya.
Yang di mana, praktik adab tersebut justru kini dinilai terlalu berlebihan, bahkan dianggap sebagai bentuk feodalisme.
Perlu kita ketahui bersama, mengutip dari beberapa sumber bahwasannya menghormati seseorang dengan berdiri, membungkuk, dan bersujud adalah suatu tindakan yang dilarang bahkan tidak disyariatkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Alasan di balik hal tersebut karena bentuk penghormatan yang sedemikian hanyalah patut disembahkan kepada Allah SWT semata.
Sehingga tidaklah pantas seorang manusia menghormati manusia lain dengan bentuk penghormatan hingga sedemikian.
Bisa kita amati bersama bahwa dalam hal adat dan kebudayaan masyarakat setempat, khususnya masyarakat Jawa, memiliki banyak tradisi beragam terutama terkait topik yang sedang kita bahas.
Yakni tentang bentuk penghormatan terhadap seseorang, dalam budayanya, masyarakat Jawa terutama dalam lingkup keraton Jawa, memiliki budaya-budaya yang cukup unik dalam menghormati para pangeran dan raja-rajanya.
Saat Idulfitri, para abdi dalem/kawulo keraton (hamba-hamba kerajaan) melakukan tradisi yang disebut Ngabekten.
Ngabekten adalah salah satu tradisi yang dilakukan di wilayah Trah Mataram Islam, seperti Kasuhunan Surakarta dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tradisi ini dilakukan saat Idulfitri tiba, di mana para abdi dalem/kawulo keraton menghaturkan permohonan maaf atau sungkem bakti yang dimulai dengan lampah dhodhok (jalan berjongkok) untuk mendekati raja.
Lalu dilanjut dengan ngaras jengku (mencium lutut), lalu dilanjutkan sembah karna (mengangkat tangan dengan sikap hatur sembah).
Dalam praktiknya kita tau bahwa dalam menghormati seseorang yang berstatus sosial tinggi, para abdi dalem/kawulo keraton sampai harus berjalan jongkok dalam menghormati rajanya.
Lantas, apakah hal tersebut bisa dikatakan Feodalisme?
Tentu saja kurang tepat apabila dikatakan feodalisme, mengingat bahwa lingkungan keraton merupakan lingkungan adat dan kebudayaan.
Sedangkan lingkungan pesantren merupakan lingkungan keagamaan dan spiritual, sehingga rasanya kurang pantas apabila pesantren yang merupakan lingkungan agamis justru melakukan beberapa budaya yang sudah jelas tidak disyari’atkan dalam ajaran agama islam.
Perlu kita pahami bersama, bahwasannya dalam praktik mengadopsi budaya guna menghormati dan bersikap Tasamuh terhadap kebudayaan dan kebiasaan masyarakat yang ada, kita perlu bersikap selektif dalam memilah hal-hal tersebut.
Kita tidak bisa asal mengadopsi kebudayaan-kebudayan tersebut yang di mana dikhawatirkan dapat mencederai atau merusak tatanan syariat dan nilai-nilai Keislaman itu sendiri.
Jadi, apa yang terjadi di beberapa pesantren, justru dapat disebut sebagai bentuk Feodalisme dan penyimpangan terhadap ajaran-ajaran syariat Islam.
Mengingat bahwa Nabi Muhammad SAW telah mensyariatkan tentang bagaimana cara kita menghormati orang lain, dengan cara yang lebih sopan dan juga tidak terlalu berlebihan.
Bahkan, sangat disayangkan apabila sampai mengatakan bahwasannya kiai/ulama seolah memiliki kehendak yang lebih istimewa dibandingkan seorang hamba biasa.
Dari pandangan saya, penting kiranya bagi kalangan pesantren untuk mengedepankan logika berpikir (rasional) dan memberi kebebasan para santri dalam praktiknya.
Guna melahirkan kaum muslimin yang rasionalis, bukan justru kaum muslimin yang konservatif.
Pada beberapa pesantren, dalam praktik pendidikannya, semuanya tampak memiliki struktur dan beberapa fungsi yang khas.
Seolah dalam kegiatan pendidikannya, pesantren cenderung hanya bertugas untuk meneruskan tradisi, doktrin pendirinya, guru pertamanya kepada generasi berikutnya, dan terus berlanjut secara berulang-ulang.
Yang di mana, tujuan mereka hanyalah terus berusaha menjaga tradisi dan doktrin, yang kemudian bagaimana caranya agak tak dilanggar.
Pendidikan semacam ini tidak pernah mau menerima ide-ide baru.
Bahkan, andaikan seorang santri mampu berpikir secara rasional, mereka dibungkam bahkan tidak jarang mereka dicap sebagai Santri Su’ul Adab.
Yang di mana, apabila praktik ini terus dipertahankan, maka hingga masa seterusnya hanya akan melahirkan Muslim yang konservatif.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang diharapkan mampu membantu memajukan kualitas pendidikan bangsa, hendaklah untuk memulai memberikan ruang kebebasan bagi para santri.
Secara tidak langsung, mampu mendorong kemampuan nalar kritisnya (berpikir rasional), yang di mana hal tersebut dapat menjadi tolak ukur bertambahnya kualitas intelektual dari kalangan Pesantren.
Seperti yang dianjurkan oleh Karl Popper dalam bukunya “Awal Mula Rasionalisme”.
Rasionalisme dapat dicapai melalui proses pencarian kebenaran yang terus berlanjut dan sikap kritis yang terbuka.
Oleh karena itu, pesantren dapat menerapkan metode pembelajaran yang mendorong santri untuk berpikir kritis, mempertanyakan asumsi, dan mencari kebenaran melalui penelitian dan diskusi.
Contoh sederhana yang bisa diterapkan pesantren:
Dengan demikian, pesantren dapat membantu meningkatkan kualitas intelektual santri dan mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi.
“Ilmu Pengetahuan adalah proses yang tak pernah berakhir, dan setiap jawaban hanya akan membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan baru.“
“Rasionalisme bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah proses yang terus berlanjut, dan setiap langkah menuju rasionalisme adalah sebuah kemenangan bagi kemanusiaan.”
Semoga pesantren dapat terus maju dan menjadi lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan generasi yang cerdas, kritis, serta muslimin muda yang rasionalis bukan konservatif.
Penulis: Bagus Dikha Sabrillano Mahasiswa Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar