Pandemi COVID-19, Pengelola Wisata TSTJ Rugi Miliaran

SOLO-Mondes.co.id| Pandemi Coronavirus desease-2019 (COVID-19) membuat sektor pariwisata di Solo tutup. Akibatnya, pengelola mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Kerugian itu dialami pengelola TTSJ pada tahun 2020. Nilainya mencapai Rp 1,5 Miliar.

Padahal, tahun sebelumnya keuntungan TSTJ mencapai Rp 500 juta pertahun. Keuntungan itu tidak terjadi lagi pada masa pendemi. Sebaliknya, TSTJ mengalami kerugian. Kerugian itu, akibat dari penutupan taman satwa karena Covid-19. Hingga kini, pembatasan pengunjung juga masih dibatasi.

Direktur Utama Perusahaan umum (Perum) Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ)  Bimo Wahyu Widodo Dasir Santosa mengatakan pembatasan pengunjung dilakukan sejak tanggal 16 Maret-19 Juni 2020. Selama empat bulan itu praktis TSTJ tidak mendapat pemasukan.

“Tanggal 19 Juni 2020-31 Januari 2021 baru TSTJ dibuka kembali. Itupun dibatasi yakni usia 15 tahun ke atas hingga lanjut usia yang masih sehat bisa masuk,” kata Bimo kepada wartawan peserta UKW Solopos, Ahad (28/02/21).

Pria asal Solo itu menambahkan untuk menambah pemasukan, pengelola TSTJ mengurangi batasan usia pengunjung, yang semula 15 tahun ke atas dirubah menjadi 5 tahun. Batasan itu berlaku sejak taman kebanggan warga Solo Raya itu di buka kembali.

Bimo mengaku keadaan yang tidak menentu seperti sekarang membuat pengelola TSTJ mengandalkan bantuan pemerintah. Terutama makanan. Supaya hewan yang berada didalam tidak mati.

“Kalau dulu biasanya dibantu (pemasukan) masyarakat dan pemerintah. Tahun ini full bantuan dari pemerintah. Ada Rp 1,6 Miliar bantuan dari pemerintah dan kami siap mempertanggungjawabkan,” ujarnya.

Terkait pengunjung, Bimo menjelaskan tidak hanya warga Solo Raya saja yang menggandrungi TTSJ. Warga Jawa timur bagian barat juga banyak. Misalnya, Magetan, Medan, Ngawi.

“Selain Solo Raya, juga Salatiga. Dulu, biasanya 3000-4000 pengunjung tiap minggunya. Sekarang menurun,” paparnya.

Saat ini, Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) di Solo, Jawa Tengah, telah diputuskan hanya beroperasi sebagai lembaga konservasi. Keputusan ini tak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang mengharuskan kebun binatang itu ditutup untuk pengunjung.

Seperti halnya di banyak kebun binatang lainnya, ataupun pusat keramaian lain, tak ada pengunjung berarti nihil pemasukan dari tiket. Sumber biaya perawatan pun menjadi persoalan.

(SR/Mondes)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.