HAPPY NEW YEAR

Pameran Seni Ukir Berbasis Sejarah akan Digelar di Museum Nasional Indonesia 

waktu baca 3 menit
Sabtu, 31 Jan 2026 15:32 0 28 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Pameran Seni Ukir akan digelar di Museum Nasional Indonesia pada April 2026 mendatang.

Perhelatan pameran dengan judul “TATAH 2026” secara resmi akan berlangsung di Museum Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Pameran seni ukir berbasis sejarah dan riset ini, diselenggarakan oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara bersama Pemerintah Kabupaten Jepara dan bekerja sama dengan Rumah Kartini.

Seperti yang diketahui, Kabupaten Jepara selama berabad-abad telah dikenal sebagai pusat seni ukir kayu di Indonesia.

Namun, di balik reputasinya sebagai kota penghasil produk ukir, Jepara juga menyimpan sejarah panjang terhadap pengetahuan, proses budaya, dan ekosistem keterampilan yang diwariskan secara lintas generasi.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi lahirnya Pameran TATAH 2026.

Sejak awal, TATAH 2026 juga dirancang untuk membaca seni ukir Jepara tidak semata sebagai produk visual, melainkan sebagai praktik pengetahuan, proses budaya, dan ekosistem yang hidup.

Mengusung tema “Suluk–Sulur–Jepara”, TATAH 2026 menghadirkan kerangka kuratorial yang memandang seni ukir sebagai laku pengetahuan (Suluk), bahasa visual yang terus bertumbuh (Sulur), serta ruang sosial dan identitas budaya yang kompleks.

Sebelumnya, TATAH 2026 sempat direncanakan berlangsung di Galeri Nasional Indonesia.

Namun, seiring pendalaman riset dan penguatan arah kuratorial, lokasi pameran dialihkan ke Museum Nasional Indonesia.

Perpindahan ini dilakukan agar pameran lebih selaras dengan karakter TATAH 2026 yang menitikberatkan pada sejarah, artefak, serta perjalanan panjang seni ukir Jepara dalam lintasan kebudayaan Indonesia.

BACA JUGA :  Dangdut Lawas Ditelan Zaman, Kian Redup di Balik Tren Musik Ambyar hingga Remix Sound Horeg

Proses persiapan untuk gelaran Pameran TATAH 2026 pun sudah berlangsung dengan menapaki jejak ukir Jepara dalam perjalanan riset untuk pameran.

Berbagai tokoh penting terlibat dalam pameran ini mulai dari kurator hingga periset.

Kurator Pameran TATAH 2026 yakni Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum. dan Nano Warsono, S.Sn, M.A. yang merupakan dosen ISI Yogyakarta.

Kemudian, sosok seniman kriya dan seni batik yakni Nurrohmad, S.Sn.

Sementara, tim riset TATAH 2026 terdiri dari M. Afif. Isyarobbi, S.Sn., Dr. Arif Akhyat, M.A., Dr. Akhmad Nizam, M.Sn., Daniel Frits Maurits Tangkilisan, M.A., dan Susi Ernawati, S.Pd.

Kurator TATAH 2026, Nano Warsono, menjelaskan pameran ini sejak awal tidak dimaksudkan sebagai ajang pamer produk semata, tetapi menampilkan ukir sebagai karya budaya.

“TATAH  ini adalah satu alat, satu tools (alat) yang akan menghasilkan banyak karya seni dan menjadi budaya,” ujar Nano.

Menurutnya, seni ukir Jepara harus dibaca sebagai bagian dari kebudayaan yang lahir dari proses panjang dan narasi kultural, bukan sekadar hasil akhir.

“Ini adalah narasi kultural. Suluk sebagai laku pengetahuan, Sulur sebagai produk budaya visual, dan Jepara sebagai identitas kota, identitas masyarakat, sekaligus ruang sosialnya,” lanjutnya.

Nano menambahkan, pemilihan Museum Nasional Indonesia, memungkinkan publik melihat seni ukir Jepara dalam konteks yang lebih luas sebagai bagian dari sejarah, lintasan budaya, dan perjumpaan berbagai pengaruh yang membentuknya dari masa ke masa.

Kurator TATAH 2026 lainnya, Dr. Suwarno Wisetrotomo, menegaskan bahwa pameran ini memberi perhatian besar pada proses pengkaryaan yang panjang, bukan hanya pada hasil karya.

“Seni ukir Jepara tidak lahir dari sikap tergesa-gesa. Ia dilakoni dengan laku, passion (minat) dan kesungguhan jiwa,” kata Suwarno.

BACA JUGA :  Anggaran Rp510 Miliar Digelontorkan untuk Pembangunan Jalan di Pati

Suwarno menambahkan, kualitas karya dalam TATAH 2026 berangkat dari kesinambungan antara keterampilan, filosofi motif, material, serta pengalaman panjang para pengukir Jepara.

“Karya yang lahir dari proses panjang dan material yang punya sejarah panjang, itulah yang ingin kami hadirkan,” ujarnya.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini