HAPPY NEW YEAR

Optimalkan Potensi Wisata Lokal Trenggalek, Desa Widoro Gelar Festival Budaya Meruwat Alam

waktu baca 2 menit
Sabtu, 22 Nov 2025 21:12 0 1090 Heru Wijaya

WISATA: Salah satu sesi ritual dalam gelaran Festival Likaliku Meruwat Alam, Merawat Kehidupan di Desa Widoro, Gandusari pada Sabtu 22 November 2025. (Mondes/her) 

 

 

TRENGGALEK, Mondes.co.id | Lestarikan salah satu warisan budaya lokal, Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, Trenggalek gelar Festival Likaliku Meruwat Alam, Merawat Kehidupan. Tradisi unik yang menggabungkan antara kultural ekonomi wisata tersebut dilangsungkan pada Sabtu 22 November 2025 di area Bendungan Widoro.

 

Agenda untuk optimalisasi daya tarik wisata ini, di kemas dengan beberapa sesi. Diantaranya, prosesi ritual, diskusi budaya, kompetisi tradisional hingga pertunjukan seni.

 

“Festival ini memang diproyeksikan menjadi salah satu magnet wisata baru di wilayah Bendungan Widoro agar semakin dikenal masyarakat luas. Termasuk, kearifan lokal setempat,” sebut Kabid Pemasaran Pariwisata, Disparbud Trenggalek, Bambang Supriyadi.

 

Menurut Bambang, festival itu sengaja menghadirkan beberapa unsur kolaboratif seni dan budaya. Yakni, pertunjukan tari-tarian, musik serta hiburan kontemporer lain yang di gabungkan dengan suasana wisata sungai.

 

Festival Likaliku Meruwat Alam, bukan hanya sekedar hiburan semata namun juga gerakan kolektif lingkungan. Terutama untuk menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga sungai sebagai sumber kehidupan.

 

“Melalui rangkaian kegiatan yang menyentuh aspek ekologi, budaya dan wisata, festival ini diharapkan memperkuat identitas lokal sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya.

 

Dengan konsep unik, sambung Bambang, di sertakan hadiah-hadiah menarik akan menjadikannya alternatif rujukan wisata akhir tahun 2025.

BACA JUGA :  Nyawa Jadi Taruhan, Bocil Naik Perahu Tembus Arus Deras Setiap Hari Demi Bersekolah

 

Acara dimulai sejak pagi hari dengan agenda Metri Kali, yakni ritual membersihkan dan menyucikan sungai sebagai simbol penghormatan terhadap alam.

 

Kemudian, sekitar Pukul 11.00 WIB, dilanjutkan Sarasehan yang membahas pentingnya menjaga kelestarian sungai dan ekosistem di sekitarnya. Diskusi ini menghadirkan narasumber dari kalangan budayawan, pemerhati lingkungan, serta masyarakat lokal.

 

Pada pukul 12.00 WIB, perhatian beralih ke Balap Gethek, lomba rakit tradisional yang menjadi ikon festival. Dengan ‘gethek’ (rakit) berbahan bambu, peserta akan berlomba adu kecepatan melintasi arus sungai di kawasan Dam Widoro.

 

“Warga, tokoh adat, serta komunitas pecinta lingkungan dilibatkan langsung. Pada puncak acara, ditampilkan pagelaran seni yang menghadirkan kelompok-kelompok kreatif dari berbagai daerah mulai jam 19.00 WIB hingga selesai,” pungkas Bambang Supriyadi. (red/adv)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini