HAPPY NEW YEAR

Musim Tanam Mulai, Tenaga Buruh Tani Banyak Dibutuhkan 

waktu baca 2 menit
Senin, 16 Feb 2026 16:34 0 29 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Musim tanam telah dimulai sejak Februari 2026 di wilayah Kabupaten Pati.

Para petani pun mulai bercocok tanam untuk ladang sawah mereka.

Walaupun petani ini memiliki sawah sendiri, tetapi jika harus dikelola tanpa bantuan, maka sang pemilik sawah tak akan mampu.

Oleh karena itu, dibutuhkan buruh tani untuk membantu mengelola.

Guna beberapa aktivitas, seperti olah lahan, tebar benih, penanaman, bahkan hingga panen.

Saat ini, banyak petani yang memerlukan bantuan buruh tani untuk penanaman padi alias nandur.

Menurut salah seorang buruh tani di Kabupaten Pati, Ngarsi’ah, ia dihubungi teman-temannya untuk membantu menanam padi.

Ia pun berangkat untuk mulai bekerja seharian penuh.

“Cuma tenaga pocokan nandur. Mulai kerja dari pagi jam 06.00 WIB sampai 16.00 WIB,” ungkapnya, Senin, 16 Februari 2026.

Hari ini, ia dengan teman-teman sesama buruh tani menanam padi atau nandur di tiga petak sawah sekaligus.

Pada sesi pertama, menanam mulai pukul 06.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB.

Berlanjut mulai pukul 13.30 WIB sampai pukul 16.00 WIB.

Secara istilah, ada yang dinamakan sekesuk dan sedino.

Kalau sekesuk, maka buruh tani bekerja dari pagi hingga menjelang siang.

Sedangkan, jika sedino, buruh tani bekerja dari pagi hingga sore.

Upah yang diterima dari pagi hingga menjelang siang Rp40 ribu untuk wanita.

Sementara, bagi buruh pria di waktu yang sama yakni Rp65 ribu.

Sedangkan, upah buruh tani wanita untuk seharian penuh Rp80 ribu dan Rp110 ribu untuk pria.

BACA JUGA :  Pemkab Pati Kembali Bangkitkan Persipa 

Dalam memperlakukan buruh tani, petani pemilik lahan sangatlah bijaksana.

Bukan hanya memberi upah kerja, tetapi juga menyediakan konsumsi bagi buruh tani yang bekerja dengan maksimal.

“Kalau sekesuk perempuan Rp40 ribu, nanti ada jaminannya (konsumsi) lagi untuk sarapan sama camilan. Kalau sekesuk laki-laki Rp65 ribu, juga nanti ada jaminannya. Yang laki-laki lebih besar karena biasanya disuruh angkut-angkut yang berat sama rokok,” terangnya.

Ia memang sering dimintai oleh warga untuk bekerja sebagai tenaga pocokan.

Hal itu karena orang-orang percaya pada kinerjanya.

Editor: Mila Candra 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini