PASANG IKLAN DISINI

Kenali Cacar Monyet, Begini Gejala dan Cara Penularan

waktu baca 3 menit
Sabtu, 11 Nov 2023 17:33 0 219 Singgih TN

PATI – Mondes.co.id | Cacar monyet merupakan penyakit yang dapat menyerang siapapun, termasuk anak-anak dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Anak-anak cenderung rentan terhadap penularan penyakit ini karena sistem kekebalan tubuh mereka masih lemah. Tingkat rawannya meningkat pada lingkungan, di mana interaksi antar anak-anak sering terjadi sehingga memperbesar risiko penyebaran cacar monyet.

Sebagai informasi, akhir-akhir ini penyakit yang disebut monkeypox telah memasuki Tanah Air. Bahkan, 30 warga DKI Jakarta telah menderita penyakit dari penyebaran virus cacar monyet. Kondisi demikian membuat setiap wilayah waspada dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk salah satunya di Kabupaten Pati.

Dalam pantauan, monkeypox tersebut sudah menyerang orang dewasa di DKI Jakarta. Meski begitu, menurut dokter spesialis anak, dr. Budi Ranu Bedali, bukan tidak mungkin suatu saat nanti giliran anak-anak yang menjadi korban. Mengingat kini sudah banyak anak-anak yang terserang penyakit cacar air.

“Sejauh ini belum pernah menemukan monkeypox terutama di Pati, utamaya pada anak. Kasusnya yang meningkat malah cacar air. Sementara yang disampaikan hanya terbatas di Jakarta dan itu pun orang dewasa,” ujarnya saat menjadi narasumber talkshow kesehatan di Rumah Sakit Keluarga Sehat Pati, Jumat, 10 November 2023 kemarin.

Pria yang akrab disapa dr. Ranu juga memaparkan bahwa penderita monkeypox membutuhkan masa inkubasi 2-4 minggu. Pada lima hari pertama, penderita mengalami demam, nyeri sendi, mual, sakit kepala, nafsu makan menurun, pembengkakan kelenjar getah bening pada leher.

Baca Juga:  Benarkah Vaksin Covid-19 Berbayar Mulai Tahun Ini?

“Kalau cacar monyet ada fase prodromal, demam, sakit kepala, lemas, nyeri otot, nafsu makan turun, dan kelenjar getah bening membesar. Ini menjadi gejala di lima hari pertama,” bebernya.

Lebih lanjut, masuklah pada fase erupsi dimana timbul lesi pada kulit, mulai dari wajah dan menyebar secara bertahap ke bagian tubuh lain. Lanjutnya, berkembang menjadi bintik merah yang berisi nanah. Setelah itu, mengeras hingga rontok.

“Pada fase erupsi mulai dari wajah, bedanya lesi agak besar kayak jerawat. Dan vesikel di telapak tangan dan kaki, bisa terjadi kayak nanah. Terjadinya lebih lama, kalau cacar air biasa semingguan sudah kering, kalau cacar monyet bisa sampai 2-4 minggu-an,” terangnya.

Pria yang familiar disapa dr. Ranu menungkap cara penularan virus cacar monyet. Virus tersebut menular dengan kontak erat antar individu maupun melalui droplet. Namun, masa penularan monkey pox cenderung lebih lambat dibanding cacar air.

“Cacar monyet bisa menyerang orang dewasa maupun anak-anak. Penularannya melalui droplet dan direct contact, apalagi semakin mudah menular ketika hidup dalam satu rumah dengan penderita. Tapi penularan tidak secepat cacar air karena infeksius cepat. Monkeypox butuh kontak erat, makanya penting bagi kita menjaga protokol kesehatan (prokes),” ungkap dr. Ranu.

Berdasarkan keterangannya, monkeypox merupakan penyakit zoonosis karena ditularkan dari hewan. Penularannya dapat melalui gigitan atau cakaran hewan tertentu yang menjadi sumber virus cacar monyet.

Menurutnya, pengobatan monkeypox simptomatik. Pasalnya beberapa anti-virus masih ada di tahap penelitian lebih lanjut.

“Bayi dan anak belum ada rekomendasi vaksin monkeypox. Belum ada rekomendasi khusus, kalau saya di literature, di luar negeri masih tahap penelitian,” terangnya.

Hal ini juga ditegaskan oleh Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, dr. Joko Leksono Widodo saat membersamainya dalam dialog tersebut. Menurutnya, penyakit monkeypox dapat sembuh dengan sendirinya.

Baca Juga:  Cuaca Ekstrem, BPBD Pinta Warga Waspada Banjir

“Monkeypox pengobatannya simptomatis karena ada beberapa anti-virus di tahap penelitian. Kalau cacar air sudah ada protokol pengobatannya. Monkeypox termasuk self limiting disease atau bisa sembuh dengan sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa monkeypox sangat kecil potensi kematian yang disebabkannya.

“Sangat kecil kematiannya, itu pun biasanya kalau ditemukan pasien meninggal karena ada komorbid tersendiri,” pungkasnya.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini