Foto: Kondisi banjir rob di Desa Tunggulsari (Mondes/Istimewa) PATI – Mondes.co.id | Banjir rob di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati semakin parah dalam dua tahun terakhir.
Selain faktor alam, masifnya penggunaan air tanah memperparah kondisi tersebut.
Menurut Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi, penggunaan sumur dalam ini mulai marak, sejak warga beralih ke budi daya ikan nila pada 2016 lalu.
“Selain alam, memang mulai tahun 2016 itu di desa kami ada budi daya ikan nila salin. Sehingga penggunaan sumur air dalam ini tidak bisa terkendali,” ungkapnya, Selasa, 9 Juni 2026.
Berdasarkan pendataan yang dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Tunggulsari, setiap tahunnya jumlah sumur bor terus meningkat.
Kini, sudah mencapai 342 titik, rinciannya yakni 238 di permukiman dan 104 di area tambak.
Masifnya penggunaan air dalam ini, menyebabkan sumur konvensional sudah tak keluar mata airnya.
“Jumlah sumur air dalamnya itu ada sekitar 342 titik. Di mana yang sektor perikanan budi daya itu mencapai 104 titik dengan kedalaman minimal 90 meter dengan diameter paralon 4 ins,” ujar kades.
Perlu diketahui, air tanah ini penting karena ikan nila tidak bisa hidup di air dengan kadar garam tinggi.
Sehingga, penyedotan air dalam dilakukan hampir 24 jam setiap hari.
“Karena ikan nila itu tidak akan bisa hidup dengan kadar garam yang tinggi. Cuma yang jelas untuk kapasitas pemakaian di sektor budi daya itu sangat masif karena hampir 24 jam area-area tambak harus diisi dengan air tawar,” ucapnya.
Penggunaan air dalam secara masif ini sangat berpengaruh sekali terhadap kemungkinan adanya penurunan muka tanah di Desa Tunggulsari.
Buktinya, setiap tahun banjir rob terus meluas, dari awalnya hanya di RT 5 kini ke RT 3.
“Kalau angkanya kita belum tahu, tapi secara kasar mata itu sangat terasa sekali bahwa setiap tahun terjadi rob. Itu pada saat kita sudah melakukan peninggian jalan, di tahun berikutnya akan tergenang kembali. Jadi artinya dari situ jelas penurunan tanah memang benar-benar terjadi di Desa Tunggulsari,” urainya.
Untuk meneliti angka penurunan tanah, pihaknya sudah bersurat kepada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.
Penelitian ini penting, agar pemerintah punya pegangan dalam merencanakan berbagai program penanganan.
“Singkatnya, kami akan melakukan kajian berapa sebenarnya penurunan muka tanah di Desa Tunggulsari. Sehingga, untuk rencana pembangunan dan penanggulangan bencana ini bisa diterapkan program yang tepat,” pungkasnya.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar