Harga Kedelai Naik, Pengaruhi Keuntungan Perajin Tahu di Pati

waktu baca 2 menit
Rabu, 8 Apr 2026 13:56 0 144 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Kenaikan harga kedelai pada April 2026 ini mulai dirasakan para perajin tahu di Kabupaten Pati, salah satunya Dion.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Perajin tahu asal Desa Wedarijaksa, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati ini mengeluhkan lonjakan harga bahan baku utama usahanya.

Menurut Dion, harga kedelai saat ini mengalami kenaikan cukup tajam dibandingkan sebelum Ramadan.

Ia menyebut terjadi kenaikan harga kedelai sekitar Rp1.600 hingga Rp1.700 per kilogram dalam waktu relatif singkat.

ketua pgri

“Sebelumnya itu sekitar Rp9.000 per kilogram, sekarang sudah naik jadi Rp10.600 sampai hampir Rp11.000,” ungkapnya, Rabu, 8 April 2026.

Kenaikan ini membuat para perajin harus memutar otak agar tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Meski harga bahan baku naik, Dion mengaku belum berani menaikkan harga jual tahu dan tempe.

Ia khawatir pelanggan akan beralih ke produk lain jika harga dinaikkan.

“Dampaknya, sekarang belum terlalu terasa ke penjualan, tapi ke keuntungan jelas berkurang. Jadi menipis,” ujarnya.

Dalam sehari, Dion menghabiskan sekitar 70 kilogram kedelai yang diolah menjadi sekitar 40 papan tahu.

Setiap papan berisi kurang lebih 100 potong tahu.

Dengan skala produksi tersebut, kenaikan harga kedelai sangat berpengaruh terhadap biaya operasional harian.

Dion menyebut, salah satu penyebab kenaikan harga kedelai adalah faktor global, termasuk adanya perang Amerika Serikat-Iran.

Ia menilai, kondisi geopolitik ikut memengaruhi distribusi dan harga komoditas.

“Kalau dari berita yang saya baca, ada pengaruh dari konflik luar negeri seperti Amerika, Israel, dan Iran. Itu katanya berdampak ke harga kedelai,” urainya.

BACA JUGA :  Unggul Atas Persipa, Persijap Kokoh di Puncak Klasemen

Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor, juga menjadi faktor utama.

Saat ini, sebagian besar kedelai didatangkan dari negara-negara Amerika Selatan seperti Brazil dan Argentina.

Ia mengaku, alternatif menggunakan kedelai lokal pun belum bisa menjadi solusi.

Dion mengungkapkan dua kendala utama, yaitu ketersediaan yang terbatas dan kualitas yang dinilai masih di bawah kedelai impor.

“Barangnya terbatas, dan kualitasnya juga masih kurang. Jadi tetap pakai yang impor,” papar Dion.

Para perajin berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai.

Harga ideal menurut mereka berada di kisaran Rp9.000 per kilogram.

“Kalau di angka Rp9.000 itu kami masih bisa dapat keuntungan dan punya simpanan,” terangnya.

Fenomena kenaikan harga kedelai ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, khususnya perajin tahu dan tempe yang menjadi bagian penting dari konsumsi masyarakat sehari-hari.

Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga produk olahan kedelai di pasaran ikut mengalami kenaikan.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini