dirgahayu ri 80

Grebeg Mulud Jeporonan, Peringati Berdirinya Kadipaten Jepara

waktu baca 2 menit
Jumat, 29 Agu 2025 13:54 0 142 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Pemerintah Kabupaten memperingati berdirinya Kadipaten Jepara atau Hadeging Kadipaten Jeporo yang jatuh pada 2 Maulud dalam penanggalan Jawa, sekaligus memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Pemerintah Kabupaten Jepara bersama kelompok Prajan Hadipuran Manunggal menggelar rangkaian tradisi Grebeg Mulud Jeporonan.

Tahun ini, peringatan Hadeging Kadipaten Jeporo memasuki usia ke-491, bertepatan dengan 2 Maulud Ehe 1469 – 1959 dalam penanggalan Jawa.

Rangkaian acara digelar pada 29–30 Agustus 2025 dengan berbagai prosesi sakral dan budaya.

Kegiatan diawali dengan Ruwatan Bumi Jepara yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Jepara pada Jumat (29/8/2025).

Prosesi ini meliputi khataman Al-Qur’an, penyatuan air dan tanah dari 134 titik makam, petilasan, serta punden yang tersebar di wilayah Jepara, kemudian ditutup dengan doa kidung.

Turut hadir Bupati Jepara Witiarso Utomo yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Moh. Eko Udyyono, Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat, serta jajaran Forkopimda.

Dalam sambutannya, Moh. Eko Udyyono menegaskan pentingnya melestarikan budaya sebagai bagian dari identitas daerah.

“Ini semua merupakan upaya kita untuk tetap menjaga kebudayaan yang ada di Kabupaten Jepara, sekaligus menghormati semua pahlawan yang telah berjuang. Tanggung jawab menjaga kebudayaan bukan hanya pemerintah, namun semua pihak harus terlibat. Harapan kami, tahun depan acara ini bisa semakin meriah serta mendukung sektor UMKM dan pariwisata,” ujarnya.

Ketua Prajan Hadipuran Manunggal, Khoirul Anam, menambahkan bahwa prosesi penyatuan air dan tanah dalam Ruwatan Bumi Jepara, menjadi simbol persatuan masyarakat Jepara.

BACA JUGA :  Normalisasi Embung Jadi Kunci Atasi Kekeringan di Rembang

“Semua saudara yang tersebar di Kabupaten Jepara bisa bersatu dan bersyukur untuk dapat sengkuyung membangun Jepara,” ungkapnya.

Rangkaian acara berlanjut dengan sedekah alam di Loji Gununung, Pengkol.

Sedekah ini berupa penanaman pohon-pohon simbolik, antara lain kemuning, naga sari, walikukun, dan dewandaru yang dibawa dari Banjarnegara serta Gunung Kawi.

Prosesi ini dimaknai sebagai wujud bakti kepada bumi dan alam sekitar.

Puncak acara Grebeg Mulud Jeporonan pada 30 Agustus ditandai dengan kirab Bergodo Tombak yang berangkat dari Makam Mantingan menuju Pendopo Kabupaten Jepara.

Kirab diikuti oleh 1.486 peserta dan perwakilan dari 20 kabupaten di empat provinsi yang turut menyerahkan pusaka tombak kepada Kabupaten Jepara sebagai ikrar persaudaraan dan kebudayaan.

Tradisi ini juga menjadi pengingat akan sejarah persatuan perjuangan Ratu Kalinyamat di masa lampau.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini