ramadan 2026

Fakta di Balik Pengembalian Menu MBG SMPN 1 Tayu

waktu baca 2 menit
Senin, 2 Mar 2026 15:58 0 58 Singgih Tri

PATI – Mondes.co.id | Tindakan pengembalian menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Tayu ramai diperbincangkan.

Pasalnya, pihak sekolah mengembalikan makanan yang didistribusikan dari SPPG Tayu Kulon karena dinilai tidak layak konsumsi.

Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Tayu, Heri Setyawan, membenarkan kejadian tersebut saat ditemui di sekolah, Senin, 2 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah siswa mengeluhkan kondisi makanan yang diterima, lantaran menu kukusan yang cepat basi.

Beberapa menu kukusan lain seperti ketan, juga dikeluhkan siswa.

“Ketika dibawa pulang banyak anak yang mengeluh. Contohnya, singkong kukus yang diberi margarin, sampai rumah sudah basi saat dibuka. Pernah juga kacang rebus dibungkus plastik, ketika dibuka anak-anak sudah berlendir,” ujar Heri.

Pihak sekolah mengaku sudah beberapa kali mengomunikasikan persoalan tersebut kepada pihak penyedia, tapi belum ada perbaikan signifikan.

“Padahal sudah kita komunikasikan, tapi kok tidak ada perbaikan yang signifikan. Daripada nanti berpotensi seperti kasus-kasus keracunan dan malah jadi lebih fatal, maka kita putuskan untuk dikembalikan,” tegasnya.

Ia pastikan pengembalian makanan tersebut telah dikonfirmasi kepada ahli gizi dan pihak SPPG untuk dicarikan solusi bersama.

Hasilnya, distribusi MBG untuk sementara dialihkan ke SPPG Kedungsari.

Menurutnya, pihak SPPG Kedungsari telah datang langsung ke sekolah bersama ahli gizi, kepala SPPG, dan asisten lapangan untuk berdiskusi terkait kebutuhan dan evaluasi menu.

“Alhamdulillah sudah ada solusi. Dari Kedungsari menyampaikan gambaran menu, ada kacang hijau, ada roti yang aman dikonsumsi sampai berbuka. Mereka juga menyampaikan nominal dan daftar menu di awal, serta menanyakan apakah ada permintaan lain. Jadi sudah ada keterbukaan harga dan menu, itu yang kami harapkan,” jelasnya.

BACA JUGA :  Bantuan Rodhentisida Disalurkan, Tangani Gagal Panen Jagung di Wukirsari

Ia menegaskan, pihak sekolah bukan mengajukan keinginan khusus, melainkan menyampaikan berbagai permasalahan yang muncul di lapangan.

“Kita bukan keinginan, tapi permasalahan-permasalahan yang muncul. Seperti menu kukusan dihindari. Kemudian telur yang berpotensi tidak dimakan anak, bisa dialihkan ke protein lain,” tandasnya.

Editor; Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini