TRENGGALEK – Mondes.co.id | Ratusan siswa SMAN 1 Kampak, Kabupaten Trenggalek beberapa waktu lalu telah melakukan unjuk rasa.
Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya transparansi tata kelola sumbangan Komite, dugaan pemotongan dana Program Indonesia Pintar (PIP), sekaligus pemberian sanksi terhadap oknum yang diduga terlibat penyalahgunaan anggaran sekolah.
Dampak dari aksi itu cukup luas, sehingga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melalui wakil gubernur datang langsung ke Trenggalek untuk memastikan terkait dinamika di lapangan tersebut.
Menanggapi polemik itu, Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 1 Kampak, Bahtiar Kholili bersama Bendahara Komite akhirnya menyampaikan klarifikasi.
Bahkan, masing-masing siap mengundurkan diri, demi kondusifitas sekolah.
“Kami siap mundur, tapi tidak bisa serta merta, karena tetap membutuhkan legal administratif. Karena Surat Keputusan (SK) harus melalui proses administrasi, tidak bisa langsung ganti layaknya sekolah swasta,” sebut Kepsek SMAN 1 Kampak itu.
Menurut dia, di lingkungan aparatur negara, meski pengunduran diri tetap wajib melalui mekanisme.
Sedangkan Bendahara Komite sudah menyiapkan surat pengunduran diri.
Bahkan, itu diumumkan langsung di hadapan siswa ketika aksi berlangsung.
“Proses administrasi sudah berjalan sesuai tahapan dalam mekanisme, termasuk berkomunikasi dengan Kantor Cabang Dinas Pendidikan,” imbuh Bahtiar.
Pun begitu, dirinya sempat memberi penjelasan mengenai permasalahan yang jadi pemicu konflik di SMAN 1 Kampak.
Bahwa sebenarnya, ada dua jenis sumbangan yang dikelola oleh sekolah, yakni sumbangan peningkatan mutu pendidikan dan sumbangan amal jariah.
“Untuk besaran sumbangan, merupakan hasil kesepakatan yang ditentukan melalui rapat komite bersama orang tua,” ujarnya.
Walau sudah disepakati, sambung Bahtiar, faktanya tidak selalu semua wali murid memberikan uang sumbangan.
Meski begitu, tidak pernah ada paksaan bagi mereka.
Sedangkan peruntukan dana ketika sudah terkumpul, dipakai untuk pembangunan fisik seperti kamar mandi, pavingisasi, area parkir, hingga renovasi musala.
“Dana hasil amal jariah untuk pembangunan fisik, sedang sumbangan peningkatan mutu pendidikan digunakan untuk mendukung kegiatan sekolah, termasuk ujian semester,” kata Bahtiar.
Disinggung mengenai isu pemotongan, anggaran PIP dirinya membantah secara tegas.
Pihak sekolah hanya mengimbau siswa agar mau memberikan sumbangan sukarela. Tidak pernah menentukan nominal, sehingga jumlahnya beragam sesuai kemauan masing-masing.
“Sumbangannya beragam sesuai kemauan siswa. Bukan ditarik, tapi anak-anak diimbau untuk memberikan secara sukarela. Untuk buku tabungan PIP memang disimpan di ruang komite sekolah, karena itu sebagaimana kesepakatan dengan siswa,” jelasnya.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar