Foto: Tambak ikan nila salin di Tunggulsari diterjang banjir (Mondes/Singgih) PATI – Mondes.co.id | Banjir melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati.
Mayoritas tambak ikan di wilayah pesisir Kabupaten Pati tersebut jebol, imbas terjangan banjir yang melanda hingga 10 hari ini.
Perlu diketahui, 90 persen masyarakat Desa Tunggulsari bermatapencaharian sebagai petani tambak.
Dengan terendamnya tambak mereka, membuat kegiatan ekonomi lumpuh.
Menurut Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi, total luas keseluruhan tambak ikan di Desa Tunggulsari sebesar 160 hektar.
Tambak-tambak tersebut untuk budi daya ikan nila salin yang notabene komoditas unggulan Kabupaten Pati.
“Dampak budi daya ikan nila salin pastinya mengalami kerusakan, dari 160 hektar yang sudah terdampak 100 hektar, di atas 60 persen yang terdampak musibah banjir tahun ini. Diperparah jebolnya tanggul dari Sungai Desa Jepat Kidul, memperparah kerusakan tambak di Desa Tunggulsari,” terangnya kepada awak media, kemarin.
Banjir besar yang melanda, mengakibatkan 100 hektar lahan tambak rusak.
Banjir ini selain karena curah hujan tinggi, ditambah adanya kerusakan tanggul sungai yang berada di sekitar desa.
“Secara ekonomi ini lumpuh, seminggu ini karena aktivitas di tambak petani tidak bisa maksimal. Mereka masih bisa memberikan waring yang itu hanya bisa dilakukan supaya ikan-ikan tidak lepas. Di sini 90 persen petambak, kemudian yang tidak punya tambak, berpenghasilan bekerja di tambak,” jelas pria yang akrab disapa Yudi.
Jika dikalkulasi, kerugian kolektif petani tambak di Desa Tunggulsari mencapai Rp5 miliar.
Mereka gagal panen ikan nila salin karena ada yang mati maupun hanyut.
Begitu apesnya petani setempat, karena menjelang dipanen, ikan-ikan nila salin mereka kebawa banjir.
Padahal modal-modal untuk budi daya sudah digelontorkan dengan ongkos yang tinggi.
“Potensi kerugian tidak sedikit, ada petani yang tinggal beberapa saat lagi panen, tapi airnya kemana-mana. Kalau airnya penuh, itu pasti kerugian makin besar karena pakan yang digunakan udah banyak, sehingga kerugian makin besar ketika ikan udah dikasih makan tetapi belum bisa dipanen,” ujarnya.
Yudi menyampaikan, ikan nila salin jadi komoditas utama yang dibudidaya di Desa Tunggulsari.
Sebanyak 90 persen petani tambak membudidayakan ikan nila salin, sedangkan sisanya budi daya jenis ikan lain.
“Ada komoditas lain seperti bandeng, tetapi nggak sampai 10 persen karena petani di sini lebih memilih ikan nila salin karena waktu panen pendek dan harga stabil. Selain itu, udang vaname juga ada sebagai campuran di budi daya ikan nila salin,” urainya.
Ia menganalisa, penyebab tingginya banjir hingga menggenangi tambak, lantaran ada pendangkalan sungai di wilayah tersebut.
Segala bentuk kemampuan maksimal dilakukan, tetapi upaya antisisipasi digagalkan oleh faktor alam.
“Kenapa ada banjir atau rob yang menggenangi area tambak dan perkampungan, kemungkinan ada pendangkalan sungai, sehingga air tidak langsung ke muara laut. Di tahun 2023 sampai 2024 sudah kita normalisasi di sungai desa, bahkan pada akhir 2024 kita mendatangkan ekskavator dan tronton untuk menanggul dan memperdalam sungai,” ungkap Yudi.
Sejauh ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Tunggulsari bersama dengan kelompok tani tambak telah melakukan normalisasi sungai desa.
Bahkan, langkah ini sudah berlangsung pada 2023 sampai 2024.
Sejumlah alat berat dan kerja manual berlangsung untuk meminimalisir banjir di Desa Tunggulsari.
“Namun, kekuatan air lebih dahsyat daripada kemampuan kita dalam menanggulangi gelombang air, akhirnya yang udah kita perbaiki jebol lagi. Dua tahun kita tanggulangi titik kritis supaya rob tidak naik ke desa, tetapi tidak bisa melawan alam, artinya ini murni alam yang sudah berubah tidak seperti beberapa tahun yang lalu dampak kerusakannya,” bebernya.
Menurutnya, dari tahun ke tahun, banjir semakin parah.
Pihaknya bersama warga maupun kelompok tani tambak telah berupaya maksimal, tetapi belum berhasil menanggulangi banjir di kawasan tambak dan permukiman penduduk.
“Kalau dari Pemdes Tunggulsari bersama 4 kelompok tani melakukan upaya setiap tahun, kejadian ini sudah setiap tahun, namun setiap tahun pula diikuti dengan tingkat kerusakan yang semakin parah. Tahun lalu tidak separah tahun ini, tiga tahun terakhir saat rob gede dan lama tidak separah empat tahun sebelumnya, karena kalau sekarang yang parah sampai merusak budidaya nila,” tandasnya.
Selain tambak ratusan hektar tambak yang diterjang banjir, ratusan rumah penduduk juga tergenang banjir di Desa Tunggulsari.
Terdapat 257 rumah warga yang terdampak dengan banjir rata-rata ketinggian air 80 sentimeter.
Editor: Mila Candra
Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini
Tidak ada komentar