Makna Transparansi di Balik Kirab Kerbau Bule Jepara

waktu baca 3 menit
Jumat, 27 Mar 2026 12:11 0 49 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id |  Tradisi Pesta Lomban Syawalan Jepara 2026 menghadirkan daya tarik baru yang sukses memikat ribuan pasang mata.

Demokrat Joni Kurnianto 2026

Tahun ini, seekor kerbau bule berukuran besar dan tampak gagah menjadi bintang utama dalam prosesi kirab pada Jumat (27/3/2026).

Hewan istimewa tersebut diarak sejauh lebih dari satu kilometer, bertolak dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jobokuto menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di kawasan Rusunawa Jepara.

Kemeriahan tradisi pesisir ini turut diikuti oleh jajaran petinggi daerah.

ketua pgri

Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Bupati M Ibnu Hajar, Sekretaris Daerah Ary Bachtiar, serta jajaran Forkopimda tampak berbaur bersama ribuan warga yang memadati sepanjang rute.

Saat melintasi Jembatan Cinta, rombongan kirab yang didominasi warna putih ini terlihat mengular panjang, menciptakan pemandangan yang epik.

Antusiasme masyarakat tahun ini tercatat jauh lebih tinggi dari biasanya.

Penampilan kerbau bule yang tidak biasa, sukses mencuri perhatian warga.

Retno (40), salah satu warga yang hadir, mengaku sudah bersiap sejak pagi hari, demi menyaksikan momen langka tersebut.

“Sudah menunggu dari pagi karena penasaran dengar kabar kerbaunya bule. Ternyata memang gagah dan besar banget, beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semoga ini membawa berkah untuk masyarakat Jepara,” ujarnya antusias.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengungkapkan bahwa Kirab Kerbau Pesta Lomban bukan sekadar agenda tahunan, melainkan urat nadi dari identitas budaya masyarakat pesisir Jepara.

Pemilihan kerbau bule tahun ini pun bukan tanpa alasan, melainkan membawa filosofi tersendiri.

BACA JUGA :  Jabat Kapolda Jateng, Brigjen Pol Ribut Hari Wibowo Disambut Tradisi Pedang Pora

“Ada hal baru yang kita hadirkan, yakni kerbau bule. Ini melambangkan semangat baru, sekaligus kekuatan yang luar biasa bagi Jepara,” jelas Witiarso.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa prosesi kirab ini adalah wujud edukasi dan transparansi kepada masyarakat.

“Kirab ini adalah simbol keterbukaan. Kami ingin menunjukkan bahwa kerbau yang nantinya dilarung adalah utuh, bukan hanya kepalanya saja. Ini sekaligus menjawab pemahaman yang selama ini berkembang di masyarakat, serta menjaga keaslian warisan leluhur kita,” tambahnya.

Kembalinya Kirab Kerbau Pesta Lomban di tahun 2026 ini menjadi angin segar, setelah sempat vakum sejak tahun 2019.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa semangat masyarakat Jepara dalam nguri-uri (melestarikan) budaya pantang padam.

Melihat tingginya animo masyarakat, Pemerintah Kabupaten Jepara berkomitmen untuk terus mengembangkan tradisi ini agar membawa dampak ekonomi yang lebih terukur.

“Tahun depan akan kita kemas lebih detail lagi, sehingga potensinya bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ungkap Bupati.

Sebagai penutup, Witiarso mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat tradisi pesisir ini.

“Tradisi Lomban adalah wujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dari laut, sekaligus doa agar para nelayan selalu diberi keselamatan. Mari kita jaga tradisi ini dengan penuh kesadaran dan kebersamaan, agar nilai luhurnya tetap bermanfaat bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Ali Hidayat, mengungkapkan kerbau bule yang dikirab seharga Rp50 juta dan berat mencapai 350 kilogram.

Kirab kerbau merupakan tradisi masyarakat Jepara sebelum pesta lomban berlangsung.

“Sebelum disembelih dan kepalanya dilarung, kerbau dikirab terlebih dahulu, dan membuktikan kepada masyarakat, bahwa benar-benar ada kerbau yang disembelih,” ucap Ali Hidayat.

BACA JUGA :  Duh, Ada 16.000 Rumah Tak Layak Huni di Pati

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini