HAPPY NEW YEAR

Menjelajahi Sentra Tenun Troso Jepara, Ada 5 Ribu Lebih Penenun

waktu baca 2 menit
Kamis, 12 Feb 2026 17:01 0 95 Dian A.

JEPARA – Mondes.co.id | Selain ukiran di sudut kota, Jepara dikenal sebagai sentra tenun.

Ya, Tenun Troso yang sudah berkembang, seiring perkembangan kota Jepara.

Kerajinan khas Jepara ini berkembang di sebuah wilayah yang dikenal sebagai Desa Troso.

Memasuki kawasan ini, dari jalan-jalan desa, hingga beranda rumah-rumah perajin, suara alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar seperti lagu lama yang tak pernah padam.

Setiap denyutnya menandai sebuah tradisi, budaya, dan sumber penghidupan.

Troso bukan sekadar lokasi produksi kain, melainkan salah satu sentra tenun terkenal di Indonesia.

Ia adalah ruang di mana ribuan pasang tangan bekerja menciptakan karya yang telah dikenal sebagai Tenun Ikat Troso, salah satu produk tekstil paling khas dari Jawa Tengah.

Terdapat lebih dari 5.000 penenun dan sekitar 3.000 ATBM di wilayah ini.

Produksinya bisa mencapai ribuan lembar setiap minggu, dengan nilai distribusi ke pasar seperti Denpasar mencapai Rp500 juta rupiah.

“Ke Bali saja, tiap minggu bisa sampai Rp500 juta,” ujar H. Abdul Jamal, Sekretaris Desa Troso sekaligus Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Troso, Kamis (12/2/2026).

Setiap lembar tenun melewati proses panjang.

Benang dipintal, digambar sesuai motif, diwarnai, dijemur supaya kering, lalu dipalet, dan akhirnya bisa ditenun dengan alat tenun manual.

Kualitasnya membuat Tenun Troso dipakai di panggung nasional hingga pesanan khusus mancanegara.

Motif khas Tenun Troso lahir dari pengamatan terhadap lingkungan desa.

Empat dukuh, Kedawung, Ampel, Belik, Sicengkir, menjadi inspirasi utama.

BACA JUGA :  UMSK 2025 Kembali Diajukan ke Gubernur, Serikat Buruh Jepara Ancam Mogok Kerja

“Jadi motif asli desa itu tidak ada peninggalan wong memang polos. Tapi tim mempelajari wilayah desa” ujar Jamal.

Dari sanalah lahir motif bambu, sawah dan masjid tua, aliran sungai dan teratai, hingga batu-batu alam.

Bentuknya menceritakan bentang alam dan ikon khas desa, sehingga jejak lokalnya kuat.

Langkah besar terjadi ketika Tenun Troso mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG).

Dengan ini, nama “Tenun Troso Jepara” tidak bisa dipakai sembarangan oleh daerah lain.

Perlindungan IG menjadi upaya agar kualitas dan identitas Troso tidak tergeser.

Dengan perlindungan ini, setiap produk yang membawa nama Troso harus memenuhi standar.

Mulai dari motif, alat, proses pewarnaan, hingga kualitasnya.

Kini, Troso bukan lagi hanya nama sebuah desa, ia menjadi brand yang kuat.

Festival tahunan tenun, rekor MURI, ekspor ke luar negeri, hingga pemesanan khusus untuk interior rumah bangsawan dunia, menjadi bukti bahwa Troso telah menembus batas-batas geografis.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini