HAPPY NEW YEAR

Mahasiswa KKN UGM Hadirkan Inovasi Insinerator Minim Asap di Desa Panohan

waktu baca 2 menit
Senin, 9 Feb 2026 14:54 0 152 Supriyanto

​REMBANG – Mondes.co.id | Masalah pengelolaan sampah yang tidak optimal, terus menjadi tantangan serius bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Menanggapi urgensi tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit Gumilang Gunem, memperkenalkan inovasi teknologi tepat guna.

Yakni berupa insinerator pembakar sampah minim asap di Desa Panohan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

​Program ini dirancang sebagai solusi berkelanjutan untuk memitigasi risiko pencemaran udara, penyumbatan drainase, serta potensi bencana banjir yang kerap dipicu oleh penumpukan sampah di tingkat desa.

​Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UGM, Dr. Sailal Arimi, M.Hum., menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah konkret dalam memutus rantai permasalahan lingkungan di pedesaan.

​”Sampah adalah variabel utama penyebab banjir dan polusi udara. Melalui implementasi insinerator ini, masyarakat kini memiliki sarana untuk mengolah sampah, terutama jenis organik, dengan dampak emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan pembakaran konvensional,” ujar Dr. Sailal.

​Teknologi insinerator ini dikembangkan oleh tiga mahasiswa KKN UGM, yakni Hafiz, Faruq, dan Kemal.

Menurut Kemal, keunggulan utama alat ini terletak pada sistem pembakaran yang lebih sempurna (terkendali), sehingga mampu mereduksi volume sampah secara signifikan tanpa menghasilkan asap pekat yang mengganggu lingkungan.

​”Kami mengedepankan proses pembakaran yang terkendali untuk memastikan sisa polusi diminimalkan. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang bersih, sekaligus menjaga kualitas udara bagi kesehatan warga,” jelas Kemal.

​Kepala Desa Panohan, Amir, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi tersebut.

BACA JUGA :  Inilah 3 Wisata Unggulan di Rembang, Cocok untuk Berlibur Akhir Tahun

Ia menilai bahwa alat ini sangat relevan bagi kebutuhan warga karena konstruksinya yang sederhana, namun efektif untuk diaplikasikan secara mandiri.

​”Kami menyambut baik praktik insinerator minim asap dari adik-adik KKN UGM. Ini adalah alternatif pengelolaan sampah yang jauh lebih aman karena tidak mengganggu sistem pernapasan warga sekitar,” ungkap Amir.

​Implementasi inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi teknis sementara, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana berbasis lingkungan yang dimulai dari lingkup terkecil.

Editor: Mila Candra

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Anda tidak dapat menyalin konten halaman ini